Sabtu, 22 November 2014

News / Internasional

Pemberontak Suriah 'Boleh Bertempur' di Lebanon

Rabu, 5 Juni 2013 | 15:42 WIB

Kepala militer pemberontak Suriah mengatakan para pejuang mereka semestinya diijinkan untuk bertempur melawan militan Hisbullah di dalam negara tetangga Lebanon.

Jenderal Selim Idriss dari Tentara Pembebasan Suriah kepada BBC mengatakan bahwa Hisbullah telah ''menyerang' Suriah, dan Lebanon tidak melakukan apapun untuk menghentikan mereka.

Dia mengatakan telah memerintahkan para komandan, termasuk yang berada di dekat kota Qusair untuk bertempur melawan Hisbullah "di dalam wilayah Suriah."

Tetapi dia menambahkan, "Sekarang ada banyak pejuang Hisbullah di Suriah, di Qusair, di Idlib, di Aleppo, di Damaskus dan bisa saya katakan ada dimanapun di negara ini."

"Hisbullah menyerang kawasan Suriah. Dan saat mereka melanjutkan hal tersebut, otoritas Lebanon tidak melakukan satu aksipun untuk menghentikan mereka datang ke Suriah. Saya rasa kami juga semestinya bisa melawan pejuang Hisbullah di dalam wilayah Libanon."

Sebelumnya pada awal pekan ini bentrokan Suriah dilaporkan telah meluas ke Lebanon. Pasukan pro pemerintah termasuk pejuang Hisbullah telah bertempur dengan pemberontak untuk menguasai kota Qusair dalam beberapa hari terakhir.

Kota ini berjarak sekitar 10 kilometer dari perbatasan Lebanon.

Keyakinan Pemberontak


Rabu pagi TV pemerintah Suriah mengklaim pasukan Assad berhasil menguasai sepenuhnya kota Qusair. "Pasukan bersenjata kami kembali mengembalikan stabilitas dan keamanan di seluruh kota Qusair," demikian isi berita yang disampaikan TV pemerintah Suriah.

Tetapi Jenderal Idriss membantah anggapan yang menyebut mereka kalah perang. Jenderal Idriss juga mengatakan bahwa mereka tidak akan menerima satu peran untuk Presiden Bashar al-Assad pasca konflik Suriah. "Jika harga untuk perdamaian adalah Bashar masih berkuasa di Suriah, maka kami tidak membutuhkan perdamaian semacam itu,'' katanya.

Jenderal Idriss berkeyakinan bahwa pasukan pemberontak akan memenangkan pertempuran melawan Assad. "Tetapi tanpa dukungan dari teman kami negara-negara Barat dan AS, pertempuran akan berlanjut dalam waktu yang sangat lama dan akan ada lebih banyak lagi martir, lebih banyak kerusakan,'' katanya.

Lebih dari 80.000 orang tewas di Suriah dan lebih dari 1,5 juta orang mengungsi sejak aksi penolakan rezim Assad dimulai tahun 2011.


Editor : Egidius Patnistik
Sumber: