Sabtu, 25 Oktober 2014

News / Internasional

Kristen-Muslim Membaca Kitab Suci Bersama

Jumat, 9 Maret 2012 | 08:26 WIB

UTRECHT, KOMPAS.com — Dengan membaca kitab suci bersama sejumlah perempuan Kristiani dan Muslim mencoba mencari titik temu antara dua agama samawi ini. Apakah ini cara para perempuan dari dua agama ini memperingati Hari Perempuan Internasional? Dan bagaimana mereka menyikapi perbedaan?

Sekitar sepuluh orang perempuan Kristiani dan Islam duduk berhadapan di kantin pusat Gereja Kristen Protestan (PKN) di Utrecht, Belanda tengah. Mereka adalah peserta dialog antar-Islam dan Kristiani yang sedang istirahat sambil menikmati makan malam ala Indonesia, lapor Radio Nederland, Kamis (8/3/2012).

Profesor Syafaatun Mirzana, seorang ilmuwan Islam Indonesia, yang ikut serta dalam dialog itu, mengakui ajaran Kristiani dan Islam itu berbeda, tapi tidak selalu bertentangan. Lalu bagaimana cara mereka membaca kitab suci bersama? "Membaca itu dalam arti kita saling memahami antara satu sama lain," katanya. Karena baik di dalam kitab suci Kristiani maupun Islam, ada cerita-cerita yang mirip. Inilah yang dicoba untuk dipotret bersama, lanjutnya.

"Misalnya masalah penciptaan (creation). Di surat Al Baqarah dibacarakan bagaimana Adam diciptakan. Lalu Genesis di bible juga berbicara tentang penciptaan," kata guru besar yang kini menjadi dosen tamu di Amerika ini.

Bukan hanya teks-teks di Al Quran saja yang dibahas dan dicari perbandingannya dengan kitab suci Kristiani, tapi juga hadis Nabi. Dan temanya tentu saja tidak terbatas pada masalah penciptaan. Misalnya topik perempuan. "Bagaimana perempuan dibicarakan di kitab suci masing-masing."

Saling menghormati

Penyelenggara dialog ini adalah Dr. Gé Speelman, dosen di universitas teologia protestan Belanda. Seperti Syafaatun ia mengakui memang kedua agama ini berbeda dan tujuan berdialog bukan untuk membuat semua orang memeluk satu agama saja. Lalu apa tujuan berdialog? "Untuk belajar saling menghormati. Ini susah terjadi, kalau kita tidak saling mengenal dan berdialog langsung, sehingga kita menghormati perbedaan," katanya.

Ia menambahkan, kalau tidak terjadi dialog langsung, maka yang ditonjolkan adalah perbedaan sehingga terjadilah saling menuding. Dampaknya, perbedaan tidak hanya dibesar-besarkan, tapi ditambah-tambah.

Dosen mata kuliah pengetahuan agama ini menambahkan, bahwa perempuan berbeda dengan lelaki dalam berdialog. "Karena perempuan lebih sosial. Perempuan selalu berbicara tentang kehidupan sosial, tentang anak-anak mereka. Dengan demikian dialog akan lebih membuahkan hasil," kata perempuan yang mengaku sering berkunjung ke Indonesia ini.

Kedua perempuan ini sependapat bahwa peranan agama sangat penting. Mengutip Hans Küng, ahli teologi Swis, yang mengatakan, kalau tidak ada perdamaian antara agama maka tidak akan ada perdamaian di dunia ini. Oleh karena itu agama tidak bisa dihilangkan, simpul keduanya.

Syafaatun menambahkan, justru sekarang peranan agama tambah penting, setidaknya studi mengenai agama. Banyak perguruan tinggi di dunia Barat yang menganggap penting studi agama, tambahnya. Dan ini terjadi terutama sejak peristiwa 11 September.

Ada orang mengatakan, bahwa dialog antar iman yang sudah berjalan bertahun-tahun justru tidak membuahkan hasil. Buktinya di dunia Barat dan juga termasuk di Belanda hubungan antara Muslim dan non-Muslim sepertinya menjadi tegang.

Anti-Islam

Sejak peristiwa 11 September, Islam semakin disorot dan dampaknya banyak orang yang masuk Islam. Tapi dampak lainnya, juga makin banyak orang di dunia Barat, di baik di Amerika maupun di Eropa yang terang-terangan anti-Islam.

Ini bisa dilihat dari bermunculannya partai dan politisi populis yang anti-Islam seperti Geert Wilders di Belanda. Speelman menyadari bahwa baik di Belanda maupun di Indonesia bermunculan politisi populis. Tanpa menyebut nama, yang ia maksudkan di sini adalah orang-orang seperti Wilders di Belanda. Sementara di Indonesia ia melihat banyak juga politisi yang mencari suara dengan ucapan-ucapan populis.

Ditanya mengenai perilaku kelompok-kelompok radikal di Indonesia, Syafaatun berpendapat, motif mereka tidak hanya agama saja. Penyebabnya sangat kompleks, tandas dosen di Universitas Islam Negeri (UIN) Yogyakarta ini. Penyulutnya bisa karena kepentingan politik, sosial, dan lain-lain.

Dilalog antara para ilmuwan perempuan itu berlangsung menjelang Hari Perempuan Internasional. Pada hari perempuan, 8 Maret, mereka menggelar pertemuan terbuka di Universitas Utrecht. Ditanya apakah ini sengaja digelar dalam rangka menyambut Hari Perempuan Internasional, Speelman mengatakan: "Sebenarnya ini kebetulan saja."


Editor : Egidius Patnistik
Sumber: