Kamis, 31 Juli 2014

News / Internasional

Kejahatan yang Memicu Eksodus dan Kematian

Jumat, 6 Maret 2009 | 05:42 WIB

 

Perserikatan Bangsa-Bangsa menyebut krisis di Darfur, Sudan, sebagai krisis kemanusiaan terburuk saat ini. Dua pertiga dari sekitar 7 juta penduduk Darfur kini hidup dari bantuan PBB dan lembaga-lembaga internasional. Sekitar 300.000 penduduk Darfur tewas dan sekitar satu juta lainnya mengungsi, lari dari aksi kekerasan di wilayah barat Sudan itu.

Darfur dengan panjang wilayah 493 km dan lebar 180 km persegi terletak di Sudan barat dan berbatasan dengan negara Chad. Komposisi penduduk darfur didominasi etnis Arab dan Afrika.

Konflik mendera wilayah ini sejak tahun 2003 ketika sekelompok orang bersenjata menyerang sejumlah fasilitas pemerintah dengan dalih pemerintah pusat yang bermarkas di ibu kota Khartoum mengabaikan wilayah tersebut. Pemerintah pusat yang dikendalikan etnis Arab dinilai tidak adil terhadap penduduk beretnis Afrika. Darfur sering didera ketegangan dan konflik antara penduduk beretnis Arab (khususnya Janjaweed) dan etnis Afrika, yakni Kabilah Fur, Zaghawa, dan Masalit. Konflik itu dipicu perebutan hak-hak atas tanah.

Pemerintah bentuk milisi

Wilayah Darfur tandus, kering. Penduduk Darfur mudah berperang hanya karena berebut sumber air atau tanah.

Kini ada dua kelompok pemberontak utama di Darfur, yaitu Tentara Pembebasan Rakyat Sudan (SPLA) dan Gerakan Kesetaraan dan Keadilan (JEM).

Pemerintah Sudan membentuk milisi di Darfur untuk menangkal serangan pemberontak bersenjata itu. Namun, Pemerintah Sudan membantah mendukung atau memiliki hubungan dengan Janjaweed yang melakukan pembunuhan massal atas etnis Afrika. Pengungsi Darfur mengatakan Janjaweed sering melakukan pembantaian atas kaum pria, memerkosa wanita, dan merampok. (mth)


Editor :
Sumber: