Kompas.com - 08/05/2013, 11:24 WIB
EditorEgidius Patnistik

Presiden Suriah, Bashar Al-Assad, dalam sebuah pidato televisi mengatakan, negaranya mampu menghadapi Israel. Pernyataan itu merupakan tanggapan terbuka pertama Presiden Al-Assad setelah serangan udara Israel terhadap sejumlah sasaran di dekat ibu kota Damaskus pada akhir pekan lalu.

"Rakyat Suriah dan personel militer, yang mencapai keberhasilan besar dalam melawan terorisme dan kelompok jihad, mampu menghadapi petualangan Israel, yang melakukan wajah terorisme dengan sasaran Suriah setiap hari," tutur Presiden Al-Assad seperti disiarkan stasiun televisi pemerintah.

"Agresi Israel yang baru-baru ini mengungkapkan keterlibatan pasukan pendudukan Israel dan negara-negara Barat serta di kawasan yang mendukung agresi melalui insiden yang sedang berlangsung di Suriah."

Namun, dia sama sekali tidak menyinggung aksi balas dendam Suriah atas serangan Israel tersebut.

Sebelumnya dia bertemu dengan Menteri Luar Negeri Iran, Ali Akbar Salehi, yang menegaskan Iran akan mendukung Suriah dalam menghadapi upaya Israel untuk mengganggu keamanan kawasan.

Konferensi internasional

Para pejabat Israel mengatakan, serangan udara pada Jumat (3/5/2013) dan Minggu (5/5/2013) ditujukan pada senjata Iran yang melintasi Suriah untuk mencapai kelompok militan Hezbollah di Lebanon.

Pemerintah Damaskus, melalui protes resminya ke PBB, menyebutkan, serangan itu menyebabkan jatuhnya sejumlah korban jiwa dan kerusakan fisik yang meluas.

Dalam perkembangan terpisah, Rusia dan Amerika Serikat sepakat untuk melaksanakan konferensi internasional guna mencegah penyelesaian atas konflik politik di Suriah.

Kesepakatan itu disampaikan oleh Menteri Luar Negeri Rusia, Sergei Lavrov, dengan mitranya dari Amerika Serikat, John Kerry, setelah menggelar pertemuan di Moskwa, Selasa (7/5/2013).

Konferensi internasional yang dimaksud merupakan tindak lanjut dari pertemuan Kelompok Aksi yang berlangsung di Jenewa pada Juni 2012. "Kami yakin Komunike Jenewa merupakan jalur yang penting untuk mengakhiri pertumpahan darah di Suriah," tutur Kerry kepada para wartawan.

"Pilihan lainnya adalah akan lebih banyak kekerasan. Pilihan lainnya adalah Suriah mengarah semakin dekat ke arah kemusnahan, jika memang sedang tidak dalam kemusnahan atau kekacauan."

PBB memperkirakan, sejak konflik Suriah marak sekitar dua tahun lalu, sudah jatuh korban sekitar 70.000 jiwa dan lebih dari satu juta warga mengungsi dari Suriah.



25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads X