Capriles Tetap Minta Penghitungan Ulang

Kompas.com - 19/04/2013, 04:12 WIB
Editor

Caracas, Kamis - Pemimpin oposisi Venezuela, Henrique Capriles, Rabu (17/4), secara resmi mengajukan permintaan penghitungan suara ulang dalam pemilu presiden yang dipertikaikan, bahkan setelah ditolak oleh Mahkamah Agung Venezuela.

Drama itu terjadi saat ketegangan politik meningkat sejak pemilu hari Minggu untuk menggantikan almarhum Presiden Hugo Chavez. Pemilu berakhir dengan kemenangan tipis bagi penerus pilihan Chavez, Nicolas Maduro.

Delapan orang tewas dan puluhan orang cedera dalam kekerasan pasca-pemilu di negara Amerika Selatan itu, Senin, terutama di kota-kota besar, tempat Capriles mendapat dukungan kuat. Kedua pihak telah saling tuduh mengobarkan kekerasan.

Untuk malam kedua berturut-turut, rakyat Venezuela melepaskan frustrasi mereka dengan memukul-mukul panci dan wajan serta membunyikan klakson mobil, sementara para pendukung Maduro memasang kembang api di seluruh Caracas untuk meredam mereka.

Para pemimpin kampanye Capriles membawa tuntutan mereka untuk penghitungan suara ulang ke markas besar otoritas pemilu nasional, CNE—diketuai Tibisay Lucena yang menerima petisi mereka. Lucena mengatakan kepada wartawan, ”Hak untuk protes dan hak untuk berbeda pendapat harus dihormati.”

”Kami jelaskan bahwa sebuah solusi politis untuk krisis ini diperlukan, dan kami berharap bahwa secepatnya, dalam pengumuman berikut (dari CNE), kami mempunyai sebuah solusi,” kata Carlos Ocariz, ketua kampanye Capriles.

Oposisi Venezuela menyaksikan opsi mereka berkurang, Rabu, setelah ketua MA mengatakan tidak akan ada penghitungan kembali. Hal ini membuat banyak lawan pemerintah merasa satu-satunya kesempatan adalah menanti sampai Partai Sosialis yang berkuasa tersandung.

Isu penghitungan suara ulang tak ditangani MA, tetapi Ketua MA Luisa Morales muncul di televisi tengah, Rabu, dan mengatakan bahwa imbauan pihak oposisi untuk penghitungan suara ulang menyeluruh telah ”membuat marah rakyat Venezuela”.

Aktivis oposisi dan pengamat independen menyebut pernyataan hakim agung itu memperlihatkan favoritisme dari sebuah badan yang seharusnya independen. (AFP/AP/DI)

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.