Kompas.com - 11/02/2013, 20:57 WIB
EditorHeru Margianto

KOMPAS.com - Awalnya, Kardinal Ratzinger dikenal sebagai seorang teolog liberal. Kecemerlangan intelektualnya mulai menarik perhatian ketika ia ikut hadir sebagai orang yang ikut memberi sumbangan pemikiran mengenai keterbukaan Gereja pada Konsili Vatikan II (1962-1965). Selama Konsili ia menjadi semacam staf ahli di bidang teologi bagi Kardinal Josef Frings dari Cologne, Jerman. Ia dihitung sebagai seorang teolog progresif.

Menurut pengamat Vatikan John Allen yang menulis biografi "Cardinal Ratzinger: The Vatican’s Enforcer of the Faith", Ratzinger berubah haluan menjadi "kanan" sejak protes mahasiswa Marxis dan Atheis meluas melanda kawasan Eropa pada tahun 1968. Sejak itu ia berketetapan hati untuk mempertahankan ajaran iman melawan apa yang disebutnya dengan perkembangan sekularisme.

Dalam khotbahnya, saat memimpin misa yang menandai dibukanya konklaf, Senin (18/4/2013), Ratzinger mencoba mempertanggungjawabkan sikapnya selama ini. Menurutnya, Gereja harus menjadi acuan yang pasti di tengah pemikiran atau ajaran yang saling tarik menarik.

Dia mengemukakan, Gereja Katolik selama 20 tahun terakhir menghadapi berbagai ajaran baru. Berbagai pemikiran-pemikiran kecil seperti diombang-ambingkan oleh gelombang pemikiran besar.

"Manusia diombang-ambingkan dari pengaruh kolektivisme ke individualisme radikal, dari ateisme ke mistik religius yang seringkali ekstrem dan aneh, dari agnotisme ke sinkretisme. Bahkan, kita juga mengalami setiap hari muncul sekte-sekte baru. Dan, Gereja Katolik juga ikut tertempa berbagai arus pemikiran itu hingga muncul pandangan bahwa mereka yang memiliki iman Katolik yang kuat dicap sebagai fundamentalisme," jelas Ratzinger.

Begitu besarnya pengaruh pemikiran-pemikiran baru itu, lanjut dia, sehingga relativisme individualisme seringkali digunakan sebagai sarana untuk mengukur seseorang. "Sebagai orang Katolik, kita mempunyai tolok ukur tersendiri yaitu Yesus Kristus. Dialah yang menjadi ukuran kemanusiaan sejati. Menjadi dewasa dalam iman tidak berarti harus mengikuti gelombang mode dan pemikiran-pemikiran baru yang bermunculan. Bagi kita menjadi dewasa dalam iman adalah makin kukuhnya akar pada persahabatan dengan Kristus. Persahabatan yang erat itulah yang membuka hati kita pada apa yang baik dan memberikan pada kita kriteria untuk menentukan apa yang benar dan apa yang salah," paparnya.

Kardinal berpendirian teguh ini adalah anak seorang polisi Jerman. Tak heran sikapnya seperti tidak mengenal kompromi. Ia juga sempat mengikuti pendikan militer. Bagaimana perjalanannya hingga sampai tahta suci? Ikuti kisahnya dalam artikel lanjutan Profil Paus Benediktus XVI (3).

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Artikel sebelumnya:
Profil Paus Benediktus XVI (1)

 

Perkembangan berita mengenai pengunduran diri paus dapat diikuti dalam topik Paus Benediktus XVI Mengundurkan Diri

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Baca tentang


    Video Pilihan

    26th

    Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

    Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

    Syarat & Ketentuan
    Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
    Laporkan Komentar
    Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

    Terkini Lainnya

    komentar di artikel lainnya
    Close Ads X
    Lengkapi Profil
    Lengkapi Profil

    Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.