Kompas.com - 28/01/2013, 15:35 WIB
EditorEgidius Patnistik

MOSKWA, KOMPAS.com - Perdana Menteri Rusia, Dmitry Medvedev, Minggu (27/1), mengatakan, Presiden Suriah Bashar al-Assad telah membuat kesalahan besar,  kemungkinan kesalahan fatal dan peluangnya mempertahankan kekuasaan kian kecil tiap hari.

"Presiden Assad telah membuat sebuah kesalahan ketika melakukan reformasi politik. Dia harus melakukan segalanya jauh lebih cepat, menarik sebagian oposisi yang moderat, yang bersedia duduk di meja perindungan dengannya," kata Medvedev dalam sebuah wawancara dengan CNN. "Ini kesalahan besarnya, dan mungkin sebuah kesalahan fatal," kata Medvedev.

"Saya berpikir, setiap hari, minggu dan bulan kesempatannya untuk mempertahankan kekuasaan menjadi semakin kecil dan kian kecil," kata Medvedev. "Tetapi saya ulangi lagi, hal itu harus diputuskan rakyat Suriah, bukan Rusia, bukan AS, bukan negara lain," katanya.

Suriah telah terkunci dalam perang saudara yang semakin berdarah sejak demonstrasi melawan Presiden Bashar pecah pada Maret 2011.  Menurut perkiraan PBB, sedikitnya 60.000 orang telah tewas dalam konflik itu.

Rusia telah menghadapi kecaman dunia internasional karena penolakannya mendukung sanksi PBB terhadap Suriah, sekutu terakhirnya di dunia Arab. Rusia beralasan, sikapnya itu berkaitan dengan bias kebijakan pro-pemberontak pada beberapa resolusi yang diusulkan negara-negara Barat sebelumnya.  Moskwa membantah pihaknya mendukung Presiden Assad dan mengatakan khawatir bahwa penggulingan terhadap Assad hanya akan memperburuk konflik.

"Saya secara pribadi saya telah menelepon Assad beberapa kali dan mengatakan, lakukan reformasi, adakan perundingan. Sayangnya, dalam pandangan saya, pemimpin Suriah itu belum siap untuk itu," kata Medvedev.

Medvedev juga memperingatkan situasi di mana para elit politik saat ini akan tersapu oleh aksi-aksi bersenjata, "karena perang saudara akan bisa berlangsung selama beberapa dekade."

Dia mengatakan tugas bagi komunitas internasional sekarang adalah mengajak para pihak berunding, bukan hanya menuntut Assad mundur kemudian dieksekusi seperti (mantan pemimpin Libya Momamar) Khadafy atau dibawa ke pengadilan di atas tandu seperti (mantan presiden Mesir) Husni Mubarak.

 

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.