Kompas.com - 12/01/2013, 18:16 WIB
|
EditorRusdi Amral

WASHINGTON, KOMPAS.com — Pemerintah Amerika Serikat menyatakan pesawat Boeing 787 Dreamliner aman untuk diterbangkan. Pemerintah AS akan menyelidiki secara mendalam penyebab kebakaran, kebocoran bahan bakar, dan sejumlah insiden pada minggu ini.

Dalam jumpa pers di hadapan lebih 100 jurnalis pada hari Jumat malam (11/1/2013) waktu Amerika, Menteri Transportasi Amerika Ray LaHood mengatakan percaya pesawat ini aman.

"Kami juga tidak mempunyai data yang menyatakan Boeing 787 tidak aman," kata Michael Huerta dari Federal Aviation Administration (FAA) dikutip dari Kantor Berita Associated Press, Sabtu (12/1/2013).

Boeing 787 merupakan produk terbaru Boeing yang sarat dengan teknologi penerbangan terkini. Boeing 787 juga merupakan pesawat Boeing pertama yang menggunakan baterai lithium ion. Badan pesawat terbuat dari bahan komposit super ringan, sedangkan yang sebelumnya dari aluminium.

Namun, Senin lalu, baterai di sebuah Boeing 787 milik Japan Airlines terbakar di Bandara Internasional Logan di Boston. Pemadam kebakaran membutuhkan waktu 40 menit untuk dapat memadamkan api. Sementara sebuah Boeing 787 lainnya juga mengalami kebocoran bahan bakar, yang menunda penerbangan dari Boston ke Tokyo.

Maskapai Jepang, All Nippon Airways, pada hari Jumat kemarin, juga melaporkan dua kasus terkait pesawat Boeing 787. Juru bicara All Nippon Airways, Ayumi Kunimatsu, mengatakan, ditemukan sejumlah kecil kebocoran oli dari mesin Boeing 787 yang terbang dari Bandara Miyazaki ke Tokyo.

Pesawat jet itu terbang kembali ke Bandara Miyazaki, tetapi ternyata tidak ditemukan hal-hal prinsip yang dapat mengancam keselamatan penerbangan. Pada penerbangan lain menuju Bandara Matsuyama di Pulau Shikoku, ditemukan keretakan pada jendela kokpit.  

"Setiap pesawat komersial baru pasti memiliki sejumlah isu ketika mulai melayani penumpang," ujar Ray Conner, presiden sekaligus chief executive dari Divisi Komersial Boeing. Conner juga bergabung dengan Huerta dan LaHood dalam jumpa pers di Washington.

Adam Welch, seorang penumpang pesawat di Seattle, mengatakan, dia memilih All Nippon Airways untuk terbang ke Korea disebabkan maskapai itu mengoperasikan Boeing 787. "Saya berharap lebih nyaman," ujar dia.

Welch mengaku mendengar sejumlah insiden yang menimpa Boeing 787. "Saya hanya berharap mereka tetap menerbangkan pesawat yang seharusnya saya naiki untuk terbang," ujar Welch.

Baik Huerta maupun LaHood menolak anggapan bahwa FAA tidak menerapkan prinsip kehati-hatian saat menerbitkan sertifikat bagi Boeing 787. LaHood mengatakan, ahli FAA telah membukukan 200.000 jam untuk mengetes dan meninjau desain pesawat sebelum sertifikat diterbitkan pada bulan Agustus 2011.

Boeing mengumumkan pembuatan Boeing 787 pada tahun 2003. Pesawat pertama akhirnya terbang pada bulan Desember 2009 dan enam pesawat uji terbang hingga 4.645 jam terbang. Sebanyak 25 persen dari keseluruhan jam terbang dijalani oleh penerbang uji FAA.   

 

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

 
Pilihan Untukmu


Video Pilihan

26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.