Koran Dunia Tak Ingin Mati Gaya

Kompas.com - 14/10/2012, 11:30 WIB
Penulis Rusdi Amral
|
EditorAgus Mulyadi

WASHINGTON, KOMPAS.com - Koran-koran dunia akhirnya menemukan model bisnis yang tepat untuk masa depannya setelah dalam satu dekade terakhir terancam bayang-bayang kematian. Tanda-tanda kematian diperlihatkan dengan jumlah pembaca koran yang semakin berkurang, pendapatan iklan terus merosot, pemutusan hubungan kerja karyawan menjadi kenyataan. Koran-koran konvensional semakin tergerus dengan hadirnya media digital.

Dua kata kunci yang menjadi penyelamat bagi koran-koran konvensional, yakni inovasi dan teknologi. Dua kata kunci itu membuat koran-koran ternama seperti The Washington Post, USA Today, The Wall Street Journal dan sejumlah media lainnya menatap optimis masa depan medianya.  Ini dilakukan setelah mereka membongkar habis bisnis prosesnya yang selama ini berjalan perlahan menuju kematian.

Memang banyak koran dunia bercokol di Amerika Serikat, terutama Washington dan New York. Negara ini punya sejarah panjang tentang industri media. Tak heran, ada media yang telah berumur lebih seratus tahun. Perkembangan media ini juga tak lepas dari perkembangan demokrasi dan ekonomi negara adidaya ini.  Semakin berkembang ekonomi negara ini, semakin berkembang pula medianya.

Namun, dalam dekade terakhir ini, banyak koran rontok di tengah jalan. Ini ditandai dengan makin berkurangnya jumlah pembaca serta merosotnya pendapatan iklan. Sejumlah media mulai kesulitan keuangan, sirkulasi menurun, iklan menyusut, bahkan ancaman PHK sudah di depan mata dengan pengurangan jumlah karyawan.

Dua koran ternama di AS terpaksa memilih tutup daripada rugi terus menerus. The Rocky Mountain News yang terbit harian dalam bentuk tabloid ditutup 27 Februari 2009. Koran yang telah berumur 153 tahun ini meninggalkan 117.600 pembacanya. Satu koran lagi yang tutup dalam usia 146 tahun adalah The Seatle Post Inteligence (Seatle PI). Koran yang terbit setiap minggu dalam format broadsheet ini beralih menjadi surat kabar online.

Revolusi teknologi informasi, seperti perkembangan internet juga merongrong kesehatan koran besar di AS. The Washington Post yang sering menjadi kiblat koran dunia terpaksa harus memangkas sejumlah biaya dengan menutup sejumlah biro dan mengurangi jumlah karyawannya. “Biaya operasi semakin besar sedangkan jumlah pendapatan semakin berkurang,” ujar Marcus Brauchli, Eksekutif Editor The Washington Post memberi alasan.

Agar bisa bertahan, kata Brauchli, pihaknya harus mengambil langkah-langkah revolusi. Tidak hanya bertahan dengan media konvensional, The Washington Post juga harus merambah dunia digital seperti website, media sosial, Iphone, Ipad, android dan stasiun TV.

Di tengah kecemasan sejumlah karyawan, ia pun menempuh cara menyatukan multiplatform itu dalam satu ruang redaksi yang terintegrasi. “Langkah ini membuat pengeluaran biaya lebih efektif dan kami bisa membangun supermarket untuk masing-masing platform,” jelasnya.

Langkah yang sama juga dilakukan USA Today, koran dengan tiras terbesar di AS. Di bawah payung Gannet Co Inc, USA Today mengintegrasikan ruang redaksinya untuk melayani lebih 100 media lokalnya yang tersebar di AS. Tidak mau ditinggalkan pembacanya setiap waktu, USA Today hadir juga dalam format koran digital, Ipad, media sosial dan gadget.

 “Dari sisi konten makin kuat, dari sisi bisnis makin mudah menjualnya,” kata John Hilkirk, Senior Editor USA Today.

Halaman Selanjutnya
Halaman:


25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Kisah Tiga Negara Penikmat Reklamasi

Kisah Tiga Negara Penikmat Reklamasi

Internasional
Ulang Tahun Selebgram Ini Berujung Petaka, 3 Orang Tewas Termasuk Suaminya

Ulang Tahun Selebgram Ini Berujung Petaka, 3 Orang Tewas Termasuk Suaminya

Internasional
Takut Terkena Virus Corona, Seorang Pria Kurung Istrinya di Kamar Mandi

Takut Terkena Virus Corona, Seorang Pria Kurung Istrinya di Kamar Mandi

Internasional
Korea Utara Umumkan Uji Coba 'Artileri Laras Jauh'

Korea Utara Umumkan Uji Coba "Artileri Laras Jauh"

Internasional
Erupsi Gunung Merapi Jadi Perhatian Media Internasional

Erupsi Gunung Merapi Jadi Perhatian Media Internasional

Internasional
Anggotanya Tularkan Virus Corona, Pemimpin Sekte Sesat di Korsel Ini Berlutut Minta Maaf

Anggotanya Tularkan Virus Corona, Pemimpin Sekte Sesat di Korsel Ini Berlutut Minta Maaf

Internasional
Mahathir Salahkan Anwar Ibrahim atas Krisis Politik Malaysia: Dia Terobsesi Jadi PM

Mahathir Salahkan Anwar Ibrahim atas Krisis Politik Malaysia: Dia Terobsesi Jadi PM

Internasional
Kerusuhan India: Upaya Menentang UU Kewarganegaraan Kontroversial yang Tewaskan 42 Orang

Kerusuhan India: Upaya Menentang UU Kewarganegaraan Kontroversial yang Tewaskan 42 Orang

Internasional
[KABAR DUNIA SEPEKAN] Bayi Cemberut Saat Dilahirkan | Mahathir Kecewa Dikhianati Muhyiddin

[KABAR DUNIA SEPEKAN] Bayi Cemberut Saat Dilahirkan | Mahathir Kecewa Dikhianati Muhyiddin

Internasional
Perubahan Wajah Afghanistan Selama 18 Tahun Diinvasi AS

Perubahan Wajah Afghanistan Selama 18 Tahun Diinvasi AS

Internasional
Momen Manis, Mahathir Mohamad Dapat Pelukan dari Sang Istri

Momen Manis, Mahathir Mohamad Dapat Pelukan dari Sang Istri

Internasional
Mengeluh soal Kehidupan, Pria Ini Meninggal Saat Siaran Langsung TV

Mengeluh soal Kehidupan, Pria Ini Meninggal Saat Siaran Langsung TV

Internasional
Virus Corona: Malaysia Tambah Empat Kasus, Armenia Umumkan Kasus Pertama

Virus Corona: Malaysia Tambah Empat Kasus, Armenia Umumkan Kasus Pertama

Internasional
Muncul Lagi di Hadapan Publik, Paus Fransiskus Mengaku Terserang Demam

Muncul Lagi di Hadapan Publik, Paus Fransiskus Mengaku Terserang Demam

Internasional
Virus Corona di Iran Menyebar Cepat, 54 Orang Meninggal

Virus Corona di Iran Menyebar Cepat, 54 Orang Meninggal

Internasional
komentar di artikel lainnya
Close Ads X