Kompas.com - 14/09/2012, 10:45 WIB
EditorEgidius Patnistik

DAMASKUS, KOMPAS.com - Mantan utusan khusus PBB untuk penyelesaian krisis Suriah, Kofi Annan mengatakan, kegagalan dunia internasional dalam menyelesaikan krisis politik di Suriah sebagai peristiwa memalukan.

Annan juga menyerukan kepada dunia internasional untuk bertindak bersama-sama dalam mencari solusi untuk menyelesaikan konflik yang berlarut-larut di Suriah.

Pernyataan Annan ini disampaikan saat Utusan khusus PBB yang baru untuk Suriah, Lakhdar Brahimi, tiba di Suriah dalam kunjungan pertamanya, semenjak ditunjuk menggantikan Kofi Annan.

Annan mengundurkan diri dari jabatan tersebut pada Agustus lalu setelah gagal menyelesaikan krisis di Suriah secara damai.

Lebih lanjut Annan mengatakan, negara-negara yang mendukung keterlibatan rezim Presiden Bashar al-Assad dan kelompok oposisi untuk mencari solusi konflik di Suriah, harus bersikap lebih aktif untuk terlibat dalam penyelesaian secara politik di kawasan itu.

Sementara itu, Brahimi rencananya akan bertemu dengan Presiden Bashar Assad, Jumat 14 September.

Kelompok perlawanan

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Dia juga akan melakukan pertemuan dengan para anggota kelompok perlawanan Suriah. "Ada krisis, dan tidak ada yang membantah itu. Saya kira krisisnya meningkat dan saya kira semua orang sepakat akan perlunya untuk mengakhiri pertumpahan darah dan menyusun kembali kesepakatan antara rakyat di negara ini," tutur Brahimi kepada para wartawan di Damaskus, seperi dikutip oleh Reuters.

"Saya harap kita bisa berperan dalam beberapa hari dan pekan mendatang," tambahnya.

Brahimi sebelumnya sudah mengatakan bahwa dia menyadari tugas yang amat sulit dalam menghentikan konflik di Suriah.

Sementara itu Faisal Mekdad mengungkapkan optimisme atas kunjungan Brahimi ke Suriah. "Kami yakin Brahimi memahami perkembangan dan jalan dalam menyelesaikan masalah terlepas dari semua komplikasinya," tuturnya. "Kami optimis dan kami mengharapkan Brahimi berhasil."

Unjuk rasa anti pemerintah marak di Suriah sejak Maret 2011 dan kemudian berkembang menjadi bentrokan bersenjata antara pemerintah dan kelompok perlawanan. Para pegiat memperkirakan sekitar 23.000 orang tewas dalam aksi kekerasan di Suriah, termasuk anak-anak maupun perempuan.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.