Kompas.com - 08/08/2012, 13:32 WIB
EditorHindra

MELBOURNE, KOMPAS.com  - Berada jauh dari keluarga pastilah menimbulkan kerinduan. Apalagi saat bulan suci Ramadhan yang datangnya hanya setahun sekali. Momen sahur bersama keluarga, nikmatnya berbuka, dan khidmatnya tarawih berjamaah selalu indah untuk dikenang.

Sabtu (30/7/2012) lalu, saya berkesempatan ikut buka bersama di Masjid Westall, Melbourne, Australia. Hal ini lumayan mengobati kerinduan akan indahnya suasana Ramadhan di gampong halaman saya, Aceh.

Westall Mosque adalah satu-satunya masjid sekaligus tempat berhimpunnya komunitas muslim Indonesia yang berada di Melbourne. Masjid ini terletak di Clayton South. Semua kegiatan berdimensi islami dilaksanakan oleh komunitas muslim Indonesia di masjid berarsitektur sederhana ini.

Selama Ramadhan, Masjid Westall tak pernah absen menyelenggarakan iftar (buka puasa) bersama dan shalat tarawih. Khusus iftar, ini hanya diadakan setiap akhir pekan. Makanan berbuka pun berasal dari orang Indonesia yang sudah lama tinggal di Melbourne. Sementara itu, shalat tarawih dilaksanakan setiap malam Ramadhan yang dihadiri oleh masyarakat Indonesia dan juga beberapa orang dari Pakistan dan Afghanistan.

Sabtu itu merupakan kali pertama saya pergi ke Masjid Westall untuk berbuka puasa. Saya sudah tiba di sana pukul 16.45 waktu setempat. Pamplet bertuliskan "Westall Mosque, Indonesian Community in Victoria" dengan jelas sudah terbaca. Dari luar, masjid ini tampak seperti sebuah rumah sederhana. Hanya sebuah kubah mungil yang berdiameter 30 cm yang menunjukkan bahwa itu adalah sebuah masjid. Masjid yang terbilang cukup sederhana jika dibandingkan dengan kebanyakan masjid di Aceh.

Menurut keterangan jemaah setempat, dulunya masjid ini adalah rumah. Masyarakat Indonesia membelinya untuk dijadikan pusat kegiatan ibadah.  

Di dalam masjid, nuansa hijau mendominasi ruangan, mulai dari ruang shalat hingga hijab pembatas antara laki-laki dan perempuan. Interior masjid terlihat cukup sederhana. Saya hanya melihat ada dua buah kaligrafi indah tergantung di dinding masjid. Dua kaligrafi ini merupakan ciri khas masjid.

Mesjid ini juga dilengkapi dengan pengeras suara khusus yang diperdengarkan untuk jemaah di dalam masjid saja.

Lima langkah dari pintu masuk bagian perempuan, terdapat sebuah perpustakaan mini dengan koleksi beberapa buku islami dan juga Al Quran. Masjid Westall juga memiliki sebuah dapur. Sambil menunggu waktu berbuka, saya lihat anak-anak sibuk belajar membaca Al Quran dan Juz Amma. Sementara itu, para orang tua sibuk menyiapkan hidangan berbuka.

Pukul 17.20, semua menu berbuka sudah terhidangkan, mulai dari kurma, kolak, puding, dan beberapa jenis penganan lainnya. Tepat pukul 17.30, seluruh jemaah pun berbuka bersama.

Alhamdulillah, meskipun tergolong sederhana, namun di masjid inilah suasana Ramadhan bercorak Indonesia tergambarkan. Saya bersyukur karena dengan suasana itulah kerinduan saya akan meriahnya Ramadhan di kampung terobati. (Eva Desma, mahasiswi Dual Degree asal Aceh di Deakin University, melaporkan dari Melbourne)

 

Baca tentang


    25th

    Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

    Syarat & Ketentuan
    Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
    Laporkan Komentar
    Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

    Terkini Lainnya

    komentar di artikel lainnya
    Close Ads X