Kompas.com - 01/08/2012, 13:37 WIB
EditorKistyarini

Saif al-Islam, anak lelaki Moammar Khadafy menginginkan pengadilan terhadap dirinya berlangsung di Den Haag, ketimbang di Libya.

Kuasa hukum Saif al-Islam mengatakan, jika dia dieksekusi mati oleh pengadilan di Libya maka itu sama dengan pembunuhan, demikian isi dokumen yang dikirim ke Mahkamah Kriminal Internasional, ICC.

Pemerintah sementara Libya sejauh ini menolak untuk menyerahkannya untuk diadili di markas ICC di Belanda, dengan alasan bahwa dia semestinya menghadapi persidangan di negaranya sendiri.

Saif al-Islam (40) berhasil ditangkap oleh milisi di kota Zintan. Dia didakwa ICC dengan tuduhan pelanggaran kemanusiaan.

Sedangkan ayahnya Kolonel Moammar Khadafy  yang berkuasa selama 42 tahun, tewas terbunuh dalam situasi yang tidak jelas setelah ditangkap pemberontak pada Oktober silam, dalam sebuah tindakan yang dikecam oleh pegiat HAM.

'Penjaga palsu'

''Saya tidak takut mati tetapi jika Anda mengeksekusi saya setelah persidangan semacam ini, Anda bisa menyebutnya sebagai pembunuhan,'' demikian kata Saif al-Islam dikutip kuasa hukumnya.

Bulan Juni lalu, sebuah tim yang dikirim ICC ditangkap dan ditahan selama tiga pekan setelah bertemu dengan Saif al-Islam.

Dalam dokumen yang dikirim ke ICC terungkap bahwa dalam pertemuan tersebut, seorang pejabat yang berpura-pura buta huruf, menyamar sebagai penjaga dan menghentikan pengacara ICC untuk mengambil pernyataan tersumpah dari Saif al-Islam.

''Penjaga itu, yang ternyata adalah Ahmed Amer, seorang anggota majelis yang berbicara beberapa bahasa, sengaja ditempatkan di ruangan guna menipu delegasi,'' demikian isi dokumen tersebut, seperti yang dilaporkan Reuters.

"Dia kembali ke ruangan dan di hadapan perwakilan ICC dan penerjemah, dia mulai berteriak bahwa pertemuan tersebut sangat berbahaya, melanggar keamanan nasional Libya.''

Pertemuan antara ICC dengan Sauf al-Islam kemudian langsung dihentikan setelah berlangsung selama 45 menit dan dokumen mereka disita, serta anggota tim ditahan.

Pejabat Libya menuduh pengacara Melinda Taylor, yang memimpin delegasi ICC, menyelundupkan perlengkapan mata-mata dan sebuah surat berkode ke Saif al-Islam selama pertemuan.

Dalam sebuah pernyataan Melinda Taylor mengatakan pengadilan putra mendiang Moammar Khadafy, Saif al-Islam, di Libya tidak akan berlangsung netral.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

 
Pilihan Untukmu


Video Pilihan

26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.