Kompas.com - 16/07/2012, 16:17 WIB
|
EditorJosephus Primus

KOMPAS.com - Sekali-sekali melanconglah ke Bihar, sebuah negara bagian di timur India. Di situ, tulis Xinhua pada Senin (16/7/2012), paradoks kehidupan bak hal lazim.

Bihar, dalam data statistik Pemerintah India, punya segudang masalah kesejahteraan rakyat. Salah satunya, perkara sanitasi.

Tetapi, pada sisi lain, warga Bihar yang lebih melimpah kalangan miskinnya justru amat akrab dengan kepemilikan plus penggunaan sarana telekomunikasi seperti telepon genggam alias hape maupun telepon kabel. Soal ber-chatting maupun mengakses layanan perbankan via hape, warga Bihar pastinya gape.

Ini catatan dari sensus teranyar otoritas Bihar. Ada 18,9 juta keluarga di Bihar. Dari jumlah itu, 56 persennya memiliki hape maupun telepon kabel. 

Tetapi, persentase jumlah warga itu adalah warga yang hidup di bawah garis kemiskinan. Maksudnya, mayoritas keluarga di Bihar tak punya akses listrik di rumah.

Tak cuma itu, mereka terbilang jauh dari fasilitas air bersih. Apalagi, toilet pun mereka tak punya. "Bisa dibilang, lebih dari separuh jumlah warga Bihar masih hidup di zaman lentera," sindir Deputi Pendataan Umum India Bhaskar Mishra.

Nah, kalau merunut data termutakhir soal kepemilikan hape maupun telepon kabel, omongan Mishra ada benarnya. Pada 2001, menurut data itu, hanya 2,2 persen dari populasi keluarga yang memiliki hape maupun telepon kabel. Sekarang, ada 9,8 juta kepemilikan telepon genggam di Bihar, belum terhitung kepemilikan telepon kabel.

Keteteran

Saat ini, Bihar yang beribu kota di Patna ini, termasuk negara bagian dengan tingkat pertumbuhan ekonomi sedang berkembang di India. Angkanya mencapai 11,3 persen dibandingkan rata-rata enam tahun fiskal sebelumnya. Pemerintah Bihar pun sedang getol-getolnya membenahi fasilitas pendidikan dan kesehatan.

Uniknya, performa negara bagian dengan jumlah penduduk terbesar ketiga di seluruh India ini untuk soal sanitasi justru keteteran. Tahun lalu, satu dari enam penduduk Bihar justru tak punya akses sama sekali untuk sanitasi dasar semisal toilet.

Meski, tahun lalu, Departemen Pekerjaan Umum Bihar bakal cepat membangun toilet umum bagi 10 juta keluarga, realisasinya baru mencakup 3 juta keluarga.

Tak berhenti sampai situ, total 105 juta penduduk Bihar, sejatinya, tiap hari memerlukan 2.500 megawatt (MW) energi listrik. Namun, yang tersedia baru 10 MW per hari.

Makanya, masuk akal kalau 83,6 persen dari jumlah keluarga di Bihar masih menggunakan minyak tanah untuk memasak dan penerangan. Statistik menunjukkan, sejak 2001 sampai sekarang, pertumbuhan sumber-sumber pembangkit listrik cuma menyentuh angka 6 persen.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.