Kompas.com - 06/07/2012, 07:11 WIB
EditorKistyarini

NAIROBI, KOMPAS.com - Berbagai masalah yang terjadi di Somalia, seperti konflik, curah hujan yang rendah dan panen yang kemungkinan terlambat, diperkirakan bisa menyebabkan ratusan ribu orang Somalia terancam kelaparan lagi, kata Save the Children, Kamis (5/7/2012).

Menurut badan kemanusiaan itu, banyak dari 1,4 juta orang Somalia yang mengungsi akibat konflik dan kekeringan akan menanggung akibat dari krisis baru itu karena mereka bergantung pada panen yang bagus untuk menjaga harga pangan tetap rendah.

"Krisis (tahun lalu) membuat sejumlah besar keluarga tidak mampu menangani dampak dari kekeringan selama satu tahun," kata Sonia Zambakides, direktur kemanusiaan Save the Children untuk Somalia.

Organisasi bantuan itu meminta pendanaan dan upaya baru oleh masyarakat internasional untuk menangani penyebab pokok dari krisis pangan yang terus berlangsung di Somalia.

"Kita membutuhkan perubahan langkah dalam pendekatan terhadap Somalia: beralih dari semata-semata menanggapi keadaan darurat kelaparan ke menangani permasalahan yang memperburuk keadaan itu," kata Zambakides.

Somalia tahun lalu dilanda kelaparan parah akibat kekeringan terburuk yang terjadi negara itu, dan PBB mengumumkan Mogadishu dan empat wilayah Somalia selatan sebagai zona kelaparan serta memperingatkan bahwa kelaparan bisa meluas ke seluruh penjuru negara itu.

Kondisi itu diperumit oleh bentrokan-bentrokan yang terus terjadi antara pasukan Somalia serta Uni Afrika sekutunya dan gerilyawan Al-Shabaab.

Bentrokan-bentrokan itu berlangsung ketika badan-badan bantuan internasional berusaha mencari cara untuk menyerahkan bantuan makanan kepada penduduk yang tinggal di kawasan yang dilanda kelaparan, khususnya daerah-daerah Somalia selatan yang dikuasai kelompok Al-Shabaab yang terkait dengan Al Qaeda.

Badan-badan bantuan menarik diri dari Somalia selatan pada awal 2010 setelah ancaman terhadap staf mereka dan aturan semakin keras yang diberlakukan terhadap aktivitas mereka oleh Al-Shabaab, yang dimasukkan ke dalam daftar kelompok teror oleh Washington.

Militan pada Juli 2011 mengatakan, kelompok bantuan asing bisa kembali lagi ke wilayah itu, namun seorang juru bicara Al-Shabaab mengatakan kemudian bahwa larangan operasi terhadap mereka masih tetap diberlakukan.

Halaman:


Video Pilihan

26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.