Suu Kyi Serukan Saling Simpati

Kompas.com - 07/06/2012, 03:17 WIB
Editor

YANGON, RABU - Tokoh demokrasi kharismatik Myanmar, Aung San Suu Kyi, mendesak warga mayoritas pemeluk agama Buddha di Myanmar menunjukkan rasa simpati mereka kepada kaum minoritas, terutama warga Muslim di negeri itu. Pernyataan itu disampaikan Suu Kyi, Rabu (6/6), menyusul kekerasan sektarian yang terjadi sebelumnya di Rakhine, Myanmar barat.

Akhir pekan lalu, terjadi kekerasan yang menyebabkan 10 warga Muslim meninggal dunia. Mereka diseret keluar dari dalam sebuah bus oleh ratusan warga yang marah. Warga lalu memukuli kesepuluh warga minoritas itu hingga tewas. Massa meyakini tiga orang dari mereka adalah pelaku perkosaan dan pembunuhan seorang perempuan warga lokal.

Padahal, ketiga pelaku, yang diidentifikasi sebagai orang Bengali Muslim, telah ditangkap dan ditahan polisi jauh sebelum insiden berdarah itu.

Kekerasan bernuansa agama tersebut dikhawatirkan semakin menambah rumit proses rekonsiliasi yang tengah berjalan di negeri itu.

Dalam pernyataannya kepada media, Suu Kyi mengecam aparat keamanan setempat, yang menurutnya gagal mencegah insiden brutal itu terjadi. ”Jika saja aparat mampu mengatasi masalah itu dari awal secara cepat dan efektif, persoalan seperti itu tidak perlu sampai membesar,” ujar Suu Kyi.

Kepada warga yang berbeda keyakinan di Rakhine, Suu Kyi juga meminta mereka agar saling memahami. Mereka diminta tidak mendasari apa yang mereka lakukan dengan kemarahan.

”Bersimpatilah kepada kelompok minoritas,” ujar Suu Kyi.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Setelah menyampaikan pernyataannya, Suu Kyi menemui perwakilan warga Muslim di kantor partai politik yang dipimpinnya, Liga Nasional untuk Demokrasi (NLD), di Yangon. Salah seorang perwakilan minoritas itu meminta Suu Kyi menjamin upaya meredakan situasi yang telanjur memanas.

Benturan beberapa kali terjadi antarpemeluk kedua agama itu, terutama di kawasan Rakhine, yang berbatasan dengan Banglades.

Pada Februari 2001, pemerintahan junta militer menerapkan jam malam di ibu kota Rakhine, Sittwe, setelah terjadi kerusuhan berdarah antarwarga pemeluk kedua agama.

Sebanyak 89 persen warga Myanmar memeluk Buddha. Adapun penganut Muslim jumlahnya hanya sekitar empat persen. (AFP/DWA)



25th

Ada hadiah uang elektronik senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads X