PBB Harus Usut Kasus Houla

Kompas.com - 29/05/2012, 02:16 WIB
Editor

Damaskus, Senin - Pembantaian keji di Houla, Suriah, yang menewaskan sedikitnya 108 warga sipil, harus menjadi perhatian internasional. Perserikatan Bangsa-Bangsa tak boleh hanya berhenti pada sikap mengecam, tetapi juga harus mengusutnya tuntas.

”PBB, bukan Suriah, yang harus menyelidiki pembantaian Houla,” kata pihak Human Rights Watch (HRW), Senin (28/5). HRW menambahkan, sesuai keterangan saksi, pasukan rezim Bashar al-Assad bertanggung jawab atas tragedi Houla.

Pembantaian terjadi di daerah Houla, Jumat pekan lalu. Dalam video amatir tampak anak-anak tewas mengenaskan. Menurut Kepala Pasukan Perdamaian PBB Herve Ladsous, sedikitnya 108 orang tewas dibantai di Houla, termasuk 49 anak dan 34 wanita. Dunia pun mengecam keras rezim Presiden Assad.

”Selama orang-orang bersenjata bisa leluasa bertindak dengan kekebalan hukum, kengerian di Suriah akan terus berlanjut,” kata Sarah Leah Whitson, Direktur HRW Timur Tengah dan Afrika Utara.

Dewan Keamanan PBB, Minggu, secara bulat mengecam keras penggunaan senjata berat di Houla. Menurut Whitson, tidak cukup jika PBB mengecam saja tanpa aksi nyata. Hal terpenting bagi DK PBB adalah mengusut tuntas tragedi itu dan menindak tegas pelakunya.

Hari Senin, utusan khusus PBB dan Liga Arab untuk Suriah, Kofi Annan, tiba di Damaskus untuk menghidupkan kembali proses penghentian kekerasan yang telah ia rintis. Annan menyerukan ”semua pihak bersenjata” untuk mematuhi rencana perdamaian.

Dari Misi Pemantau PBB di Suriah (UNSMIS) juga diketahui kekerasan tak hanya terjadi di Houla. Militer juga menyerang daerah lain, seperti Hama, dan sudah 41 orang tewas dalam 24 jam terakhir hingga Senin siang.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Meski demikian, rezim Suriah tetap membantah tuduhan bahwa pasukannya adalah pelaku berbagai tindak kekerasan itu.

Menyebar ketidakstabilan

Iran menegaskan, pembantaian di Houla dilakukan dalam rangka menyebar kekacauan dan ketidakstabilan dalam upaya menghambat penyelesaian damai krisis di Suriah.

”Kami yakin campur tangan asing, teroris, dan berbagai tindak mencurigakan lain terhadap warga Suriah akan gagal,” kata juru bicara Kementerian Luar Negeri, Ramin Mehmanparast, Senin.

Setelah bertemu dengan Menteri Luar Negeri (Menlu) Inggris William Hague di Moskwa, Menlu Rusia Sergei Lavrov menegaskan Rusia bukanlah pendukung rezim Assad. Menurut dia, pihak rezim dan oposisi sama- sama bertanggung jawab atas pembantaian di Houla.

”Kami tak mendukung Pemerintah Suriah. Kami mendukung rencana Kofi Annan,” ujar Lavrov. Lavrov juga mengingatkan prioritas utama saat ini adalah menghentikan kekerasan di Suriah, bukan mendesak pergantian rezim.

Senada dengan Rusia, China juga mengecam pembantaian Houla dan mendukung usaha Annan untuk menghentikan kekerasan di Suriah. ”Insiden ini kembali menunjukkan Suriah tak boleh buang-buang waktu untuk segera mematuhi gencatan senjata dan menghentikan kekerasan,” kata juru bicara Kemlu China, Liu Weimin, Senin.

(AFP/AP/REUTERS/CAL)

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.