Aksi Protes Sudah Menginjak Bulan Kesepuluh

Kompas.com - 17/10/2011, 02:24 WIB
Editor

Sana’a, Minggu - Enam warga sipil tewas di ibu kota Yaman, Sana’a, Minggu (16/10), tertembak pasukan keamanan saat mereka memblokir para aktivis yang tak kunjung surut berdemo selama sepuluh bulan untuk melengserkan Presiden Ali Abdullah Saleh.

Puluhan ribu orang ini tak juga gentar meskipun sehari sebelumnya, Sabtu, 12 warga sipil tewas ditembak aparat keamanan di ibu kota. Sebanyak 59 orang lainnya luka-luka.

Seorang koresponden AFP menuturkan dari lokasi di Yaman, ia melihat para penembak jitu pro-Presiden Saleh berada di atap-atap gedung, menembaki para demonstran. Aksi massa ini dipimpin oleh militer pembangkang, Jenderal Ali Mohsen al-Ahmar dari Divisi Satu Armed.

Para pemrotes sudah berkemah di alun-alun di pusat kota Sana’a, Change Square, sebelum melakukan aksi demonya. Dan pada saat mereka merangsek menuju Al-Qaa Street, hanya beberapa kilometer dari istana kepresidenan, pasukan loyalis Saleh pun tak kenal ampun, campur tangan menembaki mereka.

Militer-militer pembangkang pun balas menembaki para penembak jitu sehingga terjadi kontak senjata sengit. Aksi kekerasan hari Minggu ini serupa dengan kejadian Sabtu saat pasukan loyalis Saleh menembak mati 12 pemrotes di Al-Zubeiri Street. Di tempat terpisah, 17 orang tewas—lima di antaranya warga sipil—saat terjadi bentrokan antara pasukan loyalis Saleh dan suku tertentu yang membela oposisi.

Para aktivis demokrasi Yaman, yang telah melakukan aksi demonstrasi sejak 10 bulan lalu, pada bulan Januari, semakin keras mengumandangkan perlawanan mereka untuk menurunkan Presiden Saleh yang sudah 33 tahun memerintah.

”Kami akan terus melancarkan aksi protes meskipun nanti ribuan jiwa kaum muda gugur,” kata Walid al-Ammari, juru bicara para pemrotes. ”Ini adalah satu-satunya cara untuk memaksa runtuhnya rezim ini,” katanya kepada AFP.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Jenderal pembangkang Ahmar merilis pernyataannya, Minggu, meminta komunitas internasional melakukan intervensi agar menghentikan aksi pembantaian yang diperkirakan sudah memakan korban jiwa lebih dari 3.000 warga Yaman.

”Kami benar-benar mengimbau kepada masyarakat internasional agar menghentikan segera aksi pembantaian keji ini,” kata Ahmar dalam pernyataannya.

Ahmar mengatakan, sudah saatnya komunitas internasional memaksa Presiden Saleh menandatangani kesepakatan yang diprakarsai negara-negara kaya kawasan Teluk di sekitar Yaman yang makin miskin.

Presiden Saleh sudah berbulan-bulan ini terus-menerus menunda dan menolak menandatangani kesepakatan yang ditengahi enam negara kawasan Teluk yang tergabung dalam Dewan Kerja Sama Teluk. Padahal, sudah berulang-ulang Presiden Saleh berjanji akan menandatanganinya.

Setelah menjalani perawatan medis di Arab Saudi lantaran lukanya akibat peristiwa serangan bom Juni lalu di tempat kediamannya, Saleh justru terlihat semakin mengintensifkan aksi menekan perlawanan. Presiden Saleh, yang berbulan-bulan dirawat di Arab, diam-diam kembali ke Yaman pada bulan September lalu.

Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa saat ini tengah menyusun draf yang akan meminta para pihak bertikai menghentikan aksi kekerasan. Kepada Presiden Saleh, PBB akan memintanya menandatangani saran Dewan Kerja Sama Teluk (GCC) untuk turun jabatan. Meski demikian, GCC tidak mengungkapkan sanksinya apabila Saleh menolak tanda tangan.(AFP/AP/sha)



25th

Ada hadiah uang elektronik senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads X