Ditemukan Kuburan Massal Polisi

Kompas.com - 13/06/2011, 09:40 WIB
EditorKistyarini

DAMASKUS, KOMPAS.com — Militer Suriah merebut kota Jisr al-Shughur, Minggu (12/6/2011), seperti dilaporkan televisi Pemerintah Suriah.

Sebelumnya aktivis melaporkan baku tembak dan ledakan terjadi di kota yang dekat dengan perbatasan Turki itu. Serbuan ke Jisr al-Shugur tersebut didukung helikopter tempur dan sekitar 200 tank.

Televisi pemerintah melaporkan, militer kini menguasai sepenuhnya Jisr al-Shughur dan tengah mengejar "elemen bersenjata" ke dalam hutan dan pegunungan di sekitarnya.

Sementara itu, media pemerintah tersebut melaporkan ditemukannya sebuah kuburan massal di kota itu. Di dalamnya ditemukan 10 mayat, diduga aparat keamanan, dalam keadaan dimutilasi. "Kelompok bersenjata memutilasi jenazah yang kini diangkat dari kuburan massal," ujar reporter televisi.

Pasukan pemerintah berhasil masuk kota "setelah menjinakkan dinamit yang ditempatkan di jembatan dan jalan oleh kelompok bersenjata. Dua anggota mereka tewas dan sejumlah orang ditangkap, juga beberapa senapan mesin disita."

Laporan berbeda disampaikan oleh para aktivis. Menurut mereka, seperti disampaikan ke AFP melalui sambungan telepon, tentara membombardir Jisr al-Shughur sebelum masuk kota yang relatif kosong setelah ribuan warganya mengungsi.

"Tentara mulai menyerang sekitar pukul 07.00 dengan menembaki kota dari tank dan senjata berat lain sebelum menyerang dari selatan dan timur," kata seorang aktivis.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

"Ledakan terdengar dan helikopter berpatroli di atas kota," tukas aktivis lain.

Jisr al-Shughur yang berada di Provinsi Idlib selama ini terang-terangan menunjukkan ketidaksukaan terhadap rezim Presiden Bashar al-Assad. Kota ini menjadi fokus operasi militer dalam sepekan terakhir setelah pemerintah mengumumkan terjadinya pembantaian 120 polisi oleh "kelompok bersenjata" di kota tersebut.

Para aktivis dan warga membantah adanya pembantaian itu. Mereka mengatakan, sejumlah polisi dieksekusi aparat keamanan lain karena menolak menembaki demonstran di kota tersebut.

"Cara rezim ini menangani demonstran itulah yang menyebabkan demonstrasi merebak ke seluruh negeri. Aparat menahan, menyiksa, dan membunuh warga sipil," kata seorang anggota komite koordinasi lokal.

Baca tentang


    25th

    Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

    Syarat & Ketentuan
    Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
    Laporkan Komentar
    Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

    Terkini Lainnya

    komentar di artikel lainnya
    Close Ads X