Dalai Lama Boleh Pulang, asal...

Kompas.com - 19/05/2011, 15:16 WIB
EditorKistyarini

BEIJING, KOMPAS.com — Pejabat tinggi China di Tibet mengatakan, "pintu terbuka" bagi Dalai Lama untuk pulang. Namun, dia mengulangi tuduhan bahwa pemimpin spiritual rakyat Tibet itu seorang separatis yang menginginkan kemerdekaan Tibet.

"Semua bergantung pada Dalai Lama sendiri, apakah dia mau pulang atau tidak. Pintu terbuka lebar dan dia mengetahui pasti pendirian pemerintah pusat (China)," kata Padma Choling, Kepala Wilayah Otonomi Tibet, dalam sebuah konferensi pers di Beijing, Kamis (19/5/2011).

"Jika dia ingin pulang, pintu ke Tibet selalu terbuka," ucap pejabat tertinggi di Tibet itu.

"Dia memang ingin pensiun seperti yang dikatakannya. Jika dia menghentikan aktivitas separatisnya dan berhenti mengganggu stabilitas Tibet dan sungguh-sungguh berkonsentrasi pada Buddhaisme, dia akan berguna bagi Tibet," lanjut Choling.

Ini bukan pernyataan pertama dari Pemerintah China tentang kepulangan Dalai Lama. Namun, para pengamat Tibet yakin bahwa Beijing tidak akan mengizinkan Dalai Lama pulang karena dikhawatirkan berpotensi menyebabkan ketidakstabilan politik di Tibet.

Selama bertahun-tahun China bersikeras bahwa penerima Nobel Perdamaian 1989 itu menginginkan kebebasan Tibet. Dalai Lama selalu membantah tuduhan itu dan mengatakan bahwa dia hanya mencari otonomi "bermakna" bagi tanah airnya di Himalaya itu.

Menyusul pengunduran diri Dalai Lama pada Maret lalu, warga Tibet di pengasingan menunjuk Lobsang Sangay sebagai perdana menteri baru. Lelaki 43 tahun jebolan Universitas Harvard itu mendapat tugas berat, yakni menjalankan tugas-tugas politik Dalai Lama, sosok yang sudah menjadi ikon global.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Sampai saat ini Beijing mengambil sikap menunggu. Mereka yakin gerakan yang digalang rakyat Tibet di pengasingan itu akan hancur apabila Dalai Lama yang kini sudah berusia 75 tahun itu meninggal.

Lebih lanjut, Choling, berbicara dalam peringatan 60 tahun "pembebasan damai Tibet", menuduh Dalai Lama berniat mengembalikan sistem pemerintahan teokrasi di Tibet. Sistem itu dijalankan selama berabad-abad sebelum China menguasai Tibet pada 1951.

"Sejak hidup di pengasingan pada 1959, dia tidak pernah melakukan hal baik apa pun untuk Tibet. Semua yang dia lakukan sejak meninggalkan Tibet adalah berusaha mengembalikan perbudakan feodal," ujar Choling.

Dia kembali menegaskan sikap Beijing bahwa pemerintah pengasingan Tibet merupakan "organisasi ilegal" dan di masa depan negosiasi terkait kepulangan Dalai Lama ke Tibet adalah dia sebagai pemimpin agama, bukan pemerintah di pengasingan.

 



25th

Ada hadiah uang elektronik senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads X