Paus: Stop Kekerasan di Libya

Kompas.com - 07/04/2011, 12:22 WIB
EditorEgidius Patnistik

VATICAN CITY, KOMPAS.com — Paus Benedictus XVI, Rabu (7/4/2011), meminta penghentian segera pertempuran di Pantai Gading dan Libya. Paus mengatakan, semua pihak sebaiknya melancarkan upaya perdamaian demi menghentikan pertumpahan darah lebih lanjut.

"Saya berdoa untuk para korban dan saya dekat dengan semua orang yang menderita," kata Paus pada akhir satu pertemuan di Vatikan. "Itulah mengapa saya menyampaikan permintaan baru, dengan sepenuh hati pada semua pihak untuk melancarkan upaya perdamaian dan dialog dalam upaya menghentikan pertumpahan darah lagi. Kekerasan dan kebencian akan selalu kalah."

Paus juga telah meminta utusannya, Kardinal Peter Kodwo Turkson, agar diperbolehkan masuk ke Pantai Gading "untuk menunjukkan solidaritas saya". Turkson telah tertahan di Ghana karena meluasnya konflik di Pantai Gading.

Krisis di Pantai Gading kini memasuki tahap genting ketika pasukan yang setia kepada Presiden Alassane Ouattara menyerang bungker saingannya, Laurent Gbagbo, di Abidjan. Menurut laporan terakhir, banyak wartawan dan diplomat asing minta bantuan evakuasi. Ouattara diakui oleh masyarakat internasional.

Paus telah berulang kali memperingatkan tentang kekerasan yang meningkat di Libya. "Saya menyampaikan seruan sepenuh hati pada organisasi internasional dan mereka yang dengan tanggung jawab politik dan militer untuk melancarkan dialog dengan segera yang akan menangguhkan penggunaan senjata," katanya kepada para peziarah di Vatikan bulan lalu.

"Pada saat ketegangan sangat tinggi, menjadi lebih mendesak untuk menggunakan setiap metode diplomatik yang ada dan untuk mendukung bahkan isyarat sangat lemah dari keterbukaan dan keinginan untuk rekonsiliasi dari semua pihak yang terlibat," tambahnya.

Setelah dimulainya operasi militer internasional untuk melaksanakan zona larangan terbang di Libya, Paus telah mendesak para pemimpin dunia untuk menjamin "keselamatan warga Libya dan menjamin akses ke bantuan kemanusiaan". Harian resmi Vatikan, Osservatore Romano, sebelumnya mengatakan, Perancis telah "terlalu tergesa-gesa" melancarkan operasi militer terhadap rezim pemimpin Libya Moammar Khadafy dan mengatakan, ada "kekacauan besar" pada strategi itu.

Baca tentang


    25th

    Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

    Syarat & Ketentuan
    Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
    Laporkan Komentar
    Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

    Terkini Lainnya

    komentar di artikel lainnya
    Close Ads X