Pengungsi Libya "Serbu" Italia

Kompas.com - 28/03/2011, 08:23 WIB
EditorEgidius Patnistik

LAMPEDUSA, KOMPAS.com - Perahu yang memuat 350 pengungsi, sebagian di antaranya anak-anak dan wanita, dari Libya tiba di Italia, Sabtu (26/3). Itu perahu pertama yang mencapai Eropa sejak awal perlawanan terhadap Moammar Khadafy.

Setelah melayani ribuan pengungsi dari Tunisia dan Mesir, awal bulan lalu, Italia kini kembali menerima pengungsi dari Libya, negara tetangganya di Afrika Utara. Negeri yang dipimpin PM Silvio Berlusconi dan Presiden Giorgio Napolitano itu sempat kewalahan dan meminta bantuan lembaga asing setelah diserbu pengungsi Tunisia dan Mesir.

Juru bicara Komisi Tinggi Urusan Pengungsi PBB (UNHCR) di Italia, Laura Boldrini, seperti dilaporkan AFP hari Minggu menuturkan, satu perahu yang dipadati 350 pengungsi Libya terdampar di dekat Lampedusa, Sabtu. ”Ini perahu pertama yang membawa pelarian dari Libya setelah eskalasi kekerasan dan aksi balas dendam di sana. Mereka butuh perlindungan internasional,” katanya.

Semula ratusan pengungsi itu hendak dievakuasi ke Lampedusa, pulau terbesar di gugus Kepulauan Pelagie, Provinsi Agrigento di wilayah Sisilia. Pulau yang terletak 250 kilometer dari Sisilia dan 113 kilometer dari Tunisia itu adalah wilayah paling selatan Italia di Laut Tengah.


Mengingat Lampedusa sudah menampung 15.000 pengungsi, terutama dari Tunisia, imigran Libya dievakuasi ke Linosa, pulau kecil dekat Lampedusa. Mereka lalu ditempatkan di pusat-pusat penampungan.

Lahirkan anak di perahu

Mussie Zerai, pastor Katolik Eritrea di Italia, adalah orang pertama yang melakukan kontak langsung per telepon satelit dengan pihak perahu. Katanya, kondisi di perahu amat memprihatinkan. Di dalamnya ada 10 anak dan 20 perempuan, termasuk wanita hamil. Mereka melarikan diri karena takut menjadi korban kekerasan senjata koalisi Barat, Khadafy, dan oposisi.

Zerai mengatakan, perahu tiba di Italia setelah meninggalkan Tripoli antara Kamis dan Jumat malam. Empat atau lima perahu lainnya yang membawa imigran Afrika juga sudah meninggalkan pantai Libya. Perahu-perahu itu membawa 1.000 orang.

Di perahu pertama itu ada satu wanita hamil berdarah Etiopia. Dalam kekalutan dan kepanikan di perahu itu ia melahirkan bayi perempuan yang dinamai Yeabsera, yang berarti Hadiah dari Tuhan. Bersama ibu dan ayahnya, bayi itu dievakuasi ke Lampedusa oleh sebuah helikopter Angkatan Laut Italia dan dirujuk ke rumah sakit di Sisilia.

Seorang wanita hamil lainnya juga dapat dievakuasi dari perahu yang sedang mengalami kerusakan mesin dan sudah terisi air itu. Pastor itu mengatakan, sebagian pengungsi tersebut berdarah Eritrea, Etiopia, dan Somalia. Perahu itu semula dibantu oleh kapal perang Kanada yang turut serta dalam misi aliansi NATO untuk menegakkan embargo senjata di perairan Libya.

Boldrini mengatakan, sampai saat ini imigran yang tiba di Lampedusa adalah orang Tunisia. ”Ini adalah perahu pertama dari Libya,” kata Boldrini.

David Taylor, juru bicara misi embargo NATO yang berbasis di Naples, Italia, mengatakan, ”Kami terus memantau situasi tersebut. Mereka (para pengungsi) mengatakan kepada saya, militer Libya memaksa mereka pergi.”

Italia-Libya pernah menandatangani perjanjian persahabatan tahun 2008. Sejak awal krisis Libya, Italia memutus perjanjian karena takut diserbu imigran gelap jika Khadafy jatuh. Italia lalu meminta bantuan Uni Eropa. Khadafy malah mengatakan akan mengirim ”jutaan” pengungsi ke Italia. (AP/AFP/REUTERS/CAL)

Baca tentang


    Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
    Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
    Laporkan Komentar
    Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

    Terkini Lainnya

    11 Warga Ukraina Korban Tewas Pesawat Boeing 737 yang Ditembak Iran Dikembalikan

    11 Warga Ukraina Korban Tewas Pesawat Boeing 737 yang Ditembak Iran Dikembalikan

    Internasional
    75 Tahanan Kabur Massal dari Penjara Paraguay

    75 Tahanan Kabur Massal dari Penjara Paraguay

    Internasional
    Gara-gara Kumis, Dubes AS Ini Bikin Rakyat Korea Selatan Marah

    Gara-gara Kumis, Dubes AS Ini Bikin Rakyat Korea Selatan Marah

    Internasional
    Pangeran Harry Bela Istrinya Meghan Markle: Dia Masih Wanita yang Aku Cintai

    Pangeran Harry Bela Istrinya Meghan Markle: Dia Masih Wanita yang Aku Cintai

    Internasional
    Ayah Meghan Markle Tuding Anaknya dan Pangeran Harry 'Merendahkan Kerajaan Inggris'

    Ayah Meghan Markle Tuding Anaknya dan Pangeran Harry "Merendahkan Kerajaan Inggris"

    Internasional
    Mundur sebagai Anggota Kerajaan Inggris, Pangeran Harry: Tak Ada Pilihan Lain

    Mundur sebagai Anggota Kerajaan Inggris, Pangeran Harry: Tak Ada Pilihan Lain

    Internasional
    [POPULER INTERNASIONAL] Ibu Hamil Disiksa karena Dianggap Berdosa | Ibu Biarkan Putrinya Mati Kelaparan

    [POPULER INTERNASIONAL] Ibu Hamil Disiksa karena Dianggap Berdosa | Ibu Biarkan Putrinya Mati Kelaparan

    Internasional
    PSK Usia 69 Tahun Ini Ditemukan Tewas, Polisi Lakukan Penyelidikan

    PSK Usia 69 Tahun Ini Ditemukan Tewas, Polisi Lakukan Penyelidikan

    Internasional
    Manusia Terkecil di Dunia Ini Meninggal di Usia 27 Tahun

    Manusia Terkecil di Dunia Ini Meninggal di Usia 27 Tahun

    Internasional
    Iran Tembak Jatuh Pesawat Ukraina karena Ditakuti Jet Tempur F-35 AS

    Iran Tembak Jatuh Pesawat Ukraina karena Ditakuti Jet Tempur F-35 AS

    Internasional
    2 Orang di China Meninggal akibat Virus Misterius Mirip SARS

    2 Orang di China Meninggal akibat Virus Misterius Mirip SARS

    Internasional
    Dianggap Berdosa, Ibu Hamil dan 5 Anaknya Disiksa hingga Tewas

    Dianggap Berdosa, Ibu Hamil dan 5 Anaknya Disiksa hingga Tewas

    Internasional
    Pesta Selama Seminggu dan Biarkan Anaknya Mati Kelaparan, Ibu Ini Dipenjara

    Pesta Selama Seminggu dan Biarkan Anaknya Mati Kelaparan, Ibu Ini Dipenjara

    Internasional
    [KABAR DUNIA SEPEKAN] Gadis di China Makan Nasi dan Sambal Selama 5 Tahun | Gunung Taal Meletus

    [KABAR DUNIA SEPEKAN] Gadis di China Makan Nasi dan Sambal Selama 5 Tahun | Gunung Taal Meletus

    Internasional
    Trump kepada Pemimpin Tertinggi Iran: Dia Harus Hati-hati dengan Ucapannya

    Trump kepada Pemimpin Tertinggi Iran: Dia Harus Hati-hati dengan Ucapannya

    Internasional
    komentar di artikel lainnya
    Close Ads X