NATO Ambil Alih Komando Serangan Libya

Kompas.com - 25/03/2011, 09:28 WIB
EditorEgidius Patnistik

BRUSSELS, KOMPAS.com — Para anggota Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO), Kamis (24/3/2011), menandatangani perjanjian untuk mengambil alih komando operasi militer di Libya dalam beberapa hari ini dari koalisi pimpinan Inggris, Perancis, dan Amerika Serikat. "Negara-negara NATO telah menyepakati untuk melancarkan perencanaan akhir guna memungkinkan pengambilalihan komando dari koalisi pada Senin atau Selasa," kata seorang diplomat yang minta tidak disebutkan namanya.

Sumber diplomatik lainnya memperingatkan, bagaimanapun, perinciannya masih akan disusun mengenai zona larangan terbang yang dilaksanakan oleh koalisi sejak Sabtu lalu karena keberatan Ankara pada serangan terhadap rezim Moammar Khadafy.

Setelah beberapa hari pembicaraan yang sulit, pembicaraan terus dilakukan Kamis malam di markas besar NATO di Brussels. Di Ankara, Menlu Turki Ahmet Davutoglu juga mengumumkan pengambialihan oleh NATO itu setelah pembicaraan melalui telepon dengan rekannya dari AS, Perancis, dan Inggris. "Koalisi yang dibentuk setelah pertemuan di Paris akan melepaskan misinya dan menyerahkan seluruh operasi pada NATO dengan struktur komando tunggalnya," kata Davutoglu, menurut kantor berita Anatolia. Beberapa sekutu NATO, termasuk Inggris dan Italia, menginginkan aliansi 28 anggota itu untuk memimpin operasi tersebut.

Tapi Paris pada awalnya berkeberatan, dengan alasan misi terbang di bawah bendera NATO akan menjauhkan sekutu Arab yang mencurigai mesin militer Barat.

Beberapa negara Arab bergabung dengan serangan militer itu, dengan Qatar satu-satunya negara yang menyumbang jet tempur. Turki, satu-satunya anggota Muslim dalam NATO, menyumbang satu kapal selam dan beberapa kapal perang untuk melaksanakan embargo senjata di lautan. Parlemen Turki, Kamis, menyetujui pengiriman pasukan angkatan laut ketika pemerintah yang berakar Islam enggan ikut serangan militer.

PM Recep Tayyip Erdogan telah mengecam serangan koalisi. Ia mengatakan, "Kami telah menyaksikan pada masa lalu bahwa operasi seperti itu tidak bermanfaat dan bahkan sebaliknya, menambah korban jiwa, berubah menjadi pendudukan dan merusak dengan serius persatuan negara."

Ketika Washington mendesakkan pengalihan komando, para utusan NATO telah bertemu di markas besar selama beberapa hari untuk membicarakan masalah itu. Menurut sejumlah diplomat, sebuah kompromi berdasarkan pembicaraan akan membolehkan negara yang menentang serangan, seperti Turki, untuk memilih keluar dari operasi, sementara yang lainnya dapat mengambil bagian dalam serangan itu.

Menteri Pertahanan Italia Ignacio La Russa, Kamis, mengajukan dua kemungkinan misi udara di atas Libya, satu dipimpin oleh NATO dan kedua "zona larangan terbang plus" dengan mandat lebih luas yang akan mengijinkan serangan terhadap sasaran-sasaran di darat. Sekutu masih harus menyusun struktur politik operasi serangan itu, katanya.

Italia menuduh Perancis "keras kepala" dan mengancam untuk menarik kembali kendali tujuh pangkalan udara yang negara itu tawarkan untuk operasi zona larangan terbang jika penyerahan komando tak dicapai.

Menlu Inggris William Hague mengatakan, London menginginkan "pengalihan ke komando dan kendali NATO secepat mungkin". PM Belanda Mark Rutte memperingatkan negaranya hanya akan mengambil bagian dalam zona larangan terbang yang dipimpin oleh NATO.

Para pemimpin Eropa, yang terpecah soal Libya setelah Jerman mengoyak barisan sekutu dengan menolak mendukung resolusi Dewan Keamanan PBB yang menyetujui serangan itu, sedang bekerja untuk mengatasi perbedaan pada pertemuan puncak dua hari yang dibuka Kamis.

Baca tentang


    25th

    Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

    Syarat & Ketentuan
    Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
    Laporkan Komentar
    Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

    Terkini Lainnya

    komentar di artikel lainnya
    Close Ads X