Nuklir Jepang Tenggelamkan Bursa AS

Kompas.com - 17/03/2011, 07:21 WIB
EditorErlangga Djumena

NEW YORK, KOMPAS.com — Bursa saham Amerika Serikat (AS) terbenam seiring memburuknya krisis nuklir di Jepang. Bahkan, koreksi yang berlangsung telah menggerus penguatan yang terjadi pada Indeks Standard & Poor's 500 di tahun ini.

Indeks S & P 500 ditutup anjlok 1,95 persen ke 1.256,88 pada pukul 4 sore waktu New York. Sejauh ini, indeks acuan AS ini terpangkas hingga 6,4 persen dari level tertinggi 32 bulan terakhir pada Februari lalu. Sementara, semua saham di Dow Jones Industrial Average juga tumbang sehingga mengerek jatuh indeks DJIA sebesar 2 persen ke level 11.613,3. Ini penurunan terbesarnya sejak Agustus lalu.

Investor cemas gempa bumi terburuk yang mengguncang Jepang, dan pemberontakan di Timur Tengah juga Afrika utara, akan menggagalkan pemulihan ekonomi global. Yen juga menguat terhadap dollar AS ke posisi tertinggi saat pasca-Perang Dunia II karena spekulasi pasar akan membeli yen untuk membiayai proyek-proyek pembangunan kembali.

Semalam, koreksi di pasar saham berlanjut setelah Ketua Komisi Pengaturan Nuklir AS Gregory Jaczko memberitahu anggota parlemen bahwa radiasi tingkat tinggi telah diumumkan di Jepang. Bahkan, badan nuklir PBB berencana mengadakan pertemuan darurat untuk membahas krisis reaktor nuklir ini.

Direktur strategi investasi dari BNY Mellon Wealth Management Christopher Sheldon menyebut, penjualan saham diperburuk situasi nuklir. Kondisi ini membuat pasar semakin sulit memperkirakan kondisi Jepang. "Investor melepas saham dalam situasi negatif saat ini, dan itu beralasan kuat sebab kita tidak tahu seberapa buruk situasi ini mungkin bakal berlangsung," ujarnya.

Saham teknologi dan industri memimpin kejatuhan indeks S & P 500, dengan koreksi mencapai 1,4 persen. International Business Machines Corp merosot 3,8 persen. Sementara, General Electric Co merosot 3,4 persen dan menjadi saham dengan penurunan terbesar kedua di Dow Jones.

Saham perusahaan-perusahaan eksportir AS juga anjlok karena risiko bakal kehilangan penjualan di Jepang. Salah satunya, Hartford Financial Services Group Inc yang terbenam 3,3 persen. Adapun saham sektor ritel yang beroperasi di Jepang, seperti Coach Inc and Tiffany & Co jatuh karena spekulasi penutupan gerai dan dipersingkatnya waktu operasional bakal mengurangi penjualan. (Dupla Kartini/Kontan)

Baca tentang


    25th

    Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

    Syarat & Ketentuan
    Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
    Laporkan Komentar
    Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

    Terkini Lainnya

    komentar di artikel lainnya
    Close Ads X