Warga Sipil Disiksa

Kompas.com - 25/10/2010, 03:35 WIB
Editor

Baghdad, Minggu - Bocoran dokumen rahasia terbaru dari WikiLeaks mengungkap fakta-fakta baru yang menyedihkan dari Perang Irak. Warga sipil menjadi obyek pembunuhan, penyiksaan, dan bentuk kekerasan lain oleh aparat keamanan. Amerika Serikat, Inggris, dan Australia protes.

Sebanyak 391.832 laporan militer tentang kondisi di lapangan selama Perang Irak dari 1 Januari 2004 hingga 31 Desember 2009 dipublikasikan WikiLeaks (www.wikileaks.org), Jumat pekan lalu. Dokumen rahasia tersebut mencakup laporan harian para prajurit Angkatan Darat AS, yang mengungkap berbagai tindak kekerasan, mulai dari penembakan, peledakan bom, eksekusi, hingga pembunuhan berencana.

Kantor berita Al Jazeera, yang mendapat bocoran dokumen dari WikiLeaks lebih awal, mencatat sekitar 680 warga sipil di Irak, termasuk perempuan hamil dan penderita gangguan mental, tewas terbunuh hanya karena melintas terlalu dekat dengan pos- pos pemeriksaan militer di jalanan yang dijaga pasukan AS dan sekutunya.

   Salah satu insiden yang dilaporkan terjadi Mei 2006, saat seorang perempuan hamil bernama Nahiba Jassim dan sepupunya, Saliha Hassan, tewas ditembak di sebuah pos pemeriksaan di Samarra. Jassim dan Hassan dalam perjalanan buru-buru ke sebuah rumah sakit bersalin di kota tersebut.

Al Jazeera juga mencatat lebih dari 300 warga sipil terluka terkena pantulan (ricochet) peluru tembakan peringatan dari pasukan penjaga pos pemeriksaan. Tentu saja sudah tidak mungkin membuktikan apakah laporan tersebut ditulis dengan jujur atau sekadar dibuat untuk menutupi tembakan peringatan yang ceroboh.

Lembaga independen Iraq Body Count (IBC) yang bermarkas di Inggris dan telah mempelajari bocoran WikiLeaks tersebut menemukan jumlah korban tewas selama periode lima tahun mencapai 109.032 orang, sebanyak 66.081 orang di antaranya warga sipil. IBC menemukan sebanyak 15.000 korban tewas belum pernah dilaporkan sebelumnya.

Hal lain yang mengejutkan dari laporan-laporan ini adalah tidak adanya tindak lanjut dari unit-unit pasukan yang menembak warga sipil tersebut. Laporan tersebut juga menunjukkan bahwa pasukan AS terkesan menutup mata terhadap penyiksaan warga sipil Irak oleh aparat keamanan Irak sendiri.

Salah satu laporan yang dibuat para prajurit 101st Airborne Division, Agustus 2006, menguraikan pengakuan seorang tersangka kriminal yang pernah disiksa polisi Irak. Ia mengaku digantung di langit-langit menggunakan borgol kemudian disiram air mendidih dan digebuki dengan tongkat.

Laporan lain menyebut pasukan AS menemukan rekaman eksekusi seorang tahanan oleh 12 prajurit Irak di kawasan Tal Afar, Desember 2009. Tahanan yang terikat itu didorong ke tengah jalan lalu ditembak.

Bisa membahayakan

Sama seperti saat WikiLeaks membocorkan 77.000 dokumen rahasia tentang Perang Afganistan, Juli lalu, para pejabat AS langsung memprotes publikasi laporan rahasia tentang Irak ini. Komandan Kepala Staf Gabungan AS Laksamana Mike Mullen menyebut langkah WikiLeaks tersebut tidak bertanggung jawab dan dapat membahayakan jiwa serta menguntungkan musuh.

Nada protes senada disampaikan Inggris dan Australia. Meski demikian, Wakil Perdana Menteri (PM) Inggris Nick Clegg mengatakan, dugaan penyiksaan warga sipil dan pelanggaran aturan perang dan kontak senjata tetap harus diselidiki.

PM Irak Nouri al-Maliki menuduh pembocoran dokumen rahasia ini disengaja untuk menjegal dia tetap menjadi pemimpin pemerintahan Irak. ”Waktu (penerbitan) dokumen ini sengaja dirancang untuk membuat kehebohan media, yang bertujuan menyerang Irak dan PM Irak,” tutur Ali al-Moussawi, penasihat al-Maliki.(AP/AFP/Al Jazeera/DHF)



25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Kisah Tiga Negara Penikmat Reklamasi

Kisah Tiga Negara Penikmat Reklamasi

Internasional
Ulang Tahun Selebgram Ini Berujung Petaka, 3 Orang Tewas Termasuk Suaminya

Ulang Tahun Selebgram Ini Berujung Petaka, 3 Orang Tewas Termasuk Suaminya

Internasional
Takut Terkena Virus Corona, Seorang Pria Kurung Istrinya di Kamar Mandi

Takut Terkena Virus Corona, Seorang Pria Kurung Istrinya di Kamar Mandi

Internasional
Korea Utara Umumkan Uji Coba 'Artileri Laras Jauh'

Korea Utara Umumkan Uji Coba "Artileri Laras Jauh"

Internasional
Erupsi Gunung Merapi Jadi Perhatian Media Internasional

Erupsi Gunung Merapi Jadi Perhatian Media Internasional

Internasional
Anggotanya Tularkan Virus Corona, Pemimpin Sekte Sesat di Korsel Ini Berlutut Minta Maaf

Anggotanya Tularkan Virus Corona, Pemimpin Sekte Sesat di Korsel Ini Berlutut Minta Maaf

Internasional
Mahathir Salahkan Anwar Ibrahim atas Krisis Politik Malaysia: Dia Terobsesi Jadi PM

Mahathir Salahkan Anwar Ibrahim atas Krisis Politik Malaysia: Dia Terobsesi Jadi PM

Internasional
Kerusuhan India: Upaya Menentang UU Kewarganegaraan Kontroversial yang Tewaskan 42 Orang

Kerusuhan India: Upaya Menentang UU Kewarganegaraan Kontroversial yang Tewaskan 42 Orang

Internasional
[KABAR DUNIA SEPEKAN] Bayi Cemberut Saat Dilahirkan | Mahathir Kecewa Dikhianati Muhyiddin

[KABAR DUNIA SEPEKAN] Bayi Cemberut Saat Dilahirkan | Mahathir Kecewa Dikhianati Muhyiddin

Internasional
Perubahan Wajah Afghanistan Selama 18 Tahun Diinvasi AS

Perubahan Wajah Afghanistan Selama 18 Tahun Diinvasi AS

Internasional
Momen Manis, Mahathir Mohamad Dapat Pelukan dari Sang Istri

Momen Manis, Mahathir Mohamad Dapat Pelukan dari Sang Istri

Internasional
Mengeluh soal Kehidupan, Pria Ini Meninggal Saat Siaran Langsung TV

Mengeluh soal Kehidupan, Pria Ini Meninggal Saat Siaran Langsung TV

Internasional
Virus Corona: Malaysia Tambah Empat Kasus, Armenia Umumkan Kasus Pertama

Virus Corona: Malaysia Tambah Empat Kasus, Armenia Umumkan Kasus Pertama

Internasional
Muncul Lagi di Hadapan Publik, Paus Fransiskus Mengaku Terserang Demam

Muncul Lagi di Hadapan Publik, Paus Fransiskus Mengaku Terserang Demam

Internasional
Virus Corona di Iran Menyebar Cepat, 54 Orang Meninggal

Virus Corona di Iran Menyebar Cepat, 54 Orang Meninggal

Internasional
komentar di artikel lainnya
Close Ads X