Dipaksa Berbahasa China, Tibet Protes

Kompas.com - 20/10/2010, 13:17 WIB
EditorEgidius Patnistik

BEIJING, KOMPAS.com - Ribuan pelajar Tibet menggelar protes di China barat laut. Mereka marah terhadap pemaksaan untuk belajar dalam bahasa China, kata satu kelompok hak asasi manusia (HAM) yang bermarkas di London.

Sekitar 9.000 siswa dari enam sekolah Tibet, Selasa (19/10), turun ke jalan-jalan kota Rebkong, di Provinsi Qinghai. Mereka ingin agar tetap menghormati kebudayaan lama mereka, kata Free Tibet yang mengutip beberapa saksi mata di daerah itu.

Protes-protes itu dipicu oleh reformasi pendidikan di Rebkong yang mengharuskan semua subyek pendidikan diajarkan dalam bahasa Mandarin, dan semua buku teks akan dicetak dalam huruf China kecuali untuk kelas berbahasa Tibet dan Inggris, kata kelompok itu dalam pernyataannya. Daerah itu, basis perasaan anti-China, adalah rumah bagi tiga biara penting Buddhis Tibet.

Daerah tersebut menjadi tempat protes-protes keras anti-China pada Maret 2008, yang dimulai di ibu kota Tibet, Lhasa, kemudian menyebar ke wilayah-wilayah di dekatnya terutama yang banyak berpenduduk Tibet seperti Qinghai. Banyak warga Tibet menuduh China berkampanye untuk mempermudah budaya mereka dalam rangka meningkatkan kendali atas wilayah Himalaya terpencil itu, di mana kebencian melawan kekuasaan China berlangsung mendalam. "Penggunaan bahasa Tibet secara sistematis sedang disapu bersih sebagai bagian dari strategi China untuk memperkokoh pendudukannya di Tibet," kata Free Tibet.

Seorang pejabat bidang pendidikan kota itu yang menolak memberikan namanya kepada AFP melalui telepon, Rabu, mengatakan, "Masalah tersebut telah diselesaikan kemarin." Namun dia menolak memberi komentar lebih lanjut. Para pejabat di markas besar pemerintah kota itu juga menolak memberikan komentar.

Free Tibet mengatakan, para pelajar dari Sekolah Menengah Atas Nasional Rebkong berunjukrasa dari sekolah ke sekolah, diikuti oleh sejumlah siswa lainnya dan kemudian berkumpul di luar gedung pemerintah di kota itu. "Tidak biasa untuk aksi protes sesebanyak ini di Tibet, polisi tidak turut campur dalam aksi itu," kata kelompok tersebut.

Namun pihaknya menyatakan keprihatinan bahwa para pemrotes bisa saja ditahan atau dinyatakan dihukum dalam beberapa hari atau beberapa pekan mendatang. China, yang mengatakan bahwa pihaknya membebaskan dengan damai Tibet tahun 1951, telah mengontrol ketat wilayah pegunungan Himalaya tersebut sejak itu, dan memberlakukan kendali tangan besi sejak 2008. China mengatakan, 21 orang tewas dibunuh oleh para perusuh pada aksi kerusuhan tahun 2008. Namun kelompok-kelompok warga Tibet di pengasingan mengatakan, lebih dari 200 warga Tibet tewas, sebagian besar di tangan pasukan keamanan China, dan ribuan lain dicomot setelah itu.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.