Atasi Pembantaian di Kongo, PBB Serukan Strategi Baru

Kompas.com - 29/03/2010, 14:51 WIB
Editoraegi

LONDON, KOMPAS.com — Kepala penjaga perdamaian PBB di Kongo, Senin, menyerukan perlunya strategi baru untuk menghentikan pembantaian oleh kelompok pemberontak Uganda, Lord’s Resistance Army atau LRA.

Seruan itu muncul setelah kelompok hak asasi manusia internasional, yaitu Human Right Watch (HRW), Minggu, mengatakan bahwa pemberontakan yang berada di balik serangan empat hari yang tidak dilaporkan sebelumnya terhadap beberapa desa di Kongo timur laut pada Desember lalu telah menyebabkan lebih dari 300 penduduk sipil tewas.

Alan Doss, Kepala Misi Penjaga Perdamaian PBB di Kongo, mengatakan, LRA melakukan kejahatan itu dalam jumlah kecil melalui kelompok-kelompok yang terus bergerak, dengan memperbaiki kepintarannya untuk mengumpulkan dan menciptakan situasi yang diinginkan. "Kami perhatikan ini sebagai masalah, untuk mengatasi kelompok-kelompok kecil yang terus bergerak ke wilayah di sekitarnya  dengan sasaran yang besar," katanya kepada pewawancara.

"(Strategi) ini memerlukan penghimpunan kecermatan yang baik, ini memerlukan mobilitas udara dan kerja sama dengan penduduk setempat," katanya. Dia juga menambahkan, "Hal ini tidak akan pernah terjadi dalam satu tempat saja sebab LRA bergerak ke wilayah sekitar dalam kelompok-kelompok kecil, tetapi mereka bisa menyebabkan dampak kerusakan yang mengerikan.

"Bahkan, meski dalam kelompok-kelompok kecil, mereka melakukan gerakan di tempat sepi dan dapat menciptakan malapetaka. Yang ditakutkan adalah, mereka memiliki senjata yang baik, menciptakan ketakutan dengan cara sangat brutal, dan taktik kekerasan yang kami lihat lagi dalam pembantaian terakhir ini di dekat Tapili," paparnya.

Dalam laporan yang disiarkan di Kampala, HRW mengatakan bahwa kelompok pemberontak tersebut menewaskan sedikitnya 321 warga sipil dalam serangan 14-17 Desember di daerah Makombo yang terpencil, di distrik Haut Uele timur laut. Sekitar 250 orang lainnya, termasuk sedikitnya 80 anak, diculik. "Dalam serangan LRA yang dirancang dengan baik, para pemberontak menewaskan sedikitnya 321 penduduk sipil dan menculik 250 orang lainnya, termasuk sedikitnya 80 anak," kata laporan HRW yang diberi judul "Jejak Kematian: Pembantaian LRA di Kongo Timur Laut."

"Sebagian besar mereka yang dibunuh adalah pria dewasa, yang oleh para anggota LRA pertama-tama diikat dulu kemudian ditebas sampai tewas menggunakan parang atau kampak dan tongkat kayu yang berat," kata laporan itu, yang ditulis setelah sebuah misi kunjungan ke wilayah tersebut pada Februari lalu.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email



26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.