Sepakbola, Gay, Hingga Bunuh Diri

Kompas.com - 02/08/2008, 02:30 WIB
Editor

AKHIR-akhir ini, Indonesia digegerkan masalah gay yang dipicu oleh pembunuhan berantai yang dilakukan Veri Idham Henyansyah alias Ryan (30). Kelompok heteroseksual itu sering menjadi bahan kontroversi. Hal itu juga pernah terjadi di dunia sepakbola.

Terutama pada awal 1990, ketika pemain sepakbola Inggris, Jjustin Fashanu, mengaku kepada publik bahwa dirinya seorang gay. Tak ayal, dunia sepakbola pun langsung gegera. Sebab, cabang olahraga ini identik dengan komunitas macho. Maka, banyak orang yang menentang kehadiran Fashanu di sepakbola.

Kariernya pun langsung tenggelam. Padahal, Justin Fashanu merupakan pemain kulit hitam pertama yang dikontrak mencapai 1 juta pounds pada 1980, ketika dibeli Notthingham Forest dari Norwich City. Banyak yang berharap bahwa dirinya akan menjadi bintang klub tersebut.

Namun, kehiduan homoseksualnya membuat kariernya tersendat. Meski belum mengumumkan dirinya gay pada 1980-an, namun banyak orang mencurigainya sebagai gay. Apalagi, dia sering berkunjung ke bar gay, Heaven, dan sering berduaan dengan sesama jenis. Bahkan, pelatih Notthingham waktu iitu, Brian Clough, menyindirnya, "Dia berdarah homo."

Fashanu pun semakin tertekan. Apalagi, waktu itu rasisme di sepakbola masih kuat. Setiap bermain, dia disoraki sebagai homoseksual dan diejek sebagai kera. Bahkan, sering suporter melemparkan pisang kepadanya.

Tekanan demi tekanan semakin besar, setelah dia mengaku sebagai gay pada 1990. Kariernya pun semakin meredup. Meski punya bakat besar, tak ada klub elite yang bersedia mengontrak pemain keturunan Nigeria itu.

Apalagi, pada tahun 1990, teman laki-lakinya yang baru berumur 17 tahun, tewas karena bunuh diri. Fashanu semakin tenggelam dalam kesedihan, hinaan, dan cercaan.

Dia pernah mengatkaan kepada rekan dekatnya, Peter Tatchell, sebenanyar banyak pemain sepakbola yang gay. Di Inggris awal 1990-an saja, setidaknya ada 12 pemain yang gay. Hanya saja, mereka tak berani mengambil keputusan seperti dirinya untuk mengumumkan keberadaannya. Fashanu membuka keberadaannya sebagai gay dengan harapan komunitas itu diterima di sepakbola. Yang terjadi justru sebaliknya, hingga banyak pemain gay tak berani mengakui diri.

Fashanu semakin tersudut. Pada 1998, dia pergi ke Amerika Serikat. Tepatnya 25 Maret 1998, dia diadukan seorang pemuda dengan tuduhan melakukan pelecehan seksual kepadanya. Kala polisi Amerika akan menangkapnya, dia keburu kembali ke Inggris.

Ternyata, dia punya rencana tersendiri. Pada Mei 1998, dia memutuskan bunuh diri dengan cara menggantung diri di garasi rumahnya di Shoreditch, London. Dia meninggalkan catatan, "Aku sadar telah dianggap sebagai kesalahan. Aku tak ingin terus mempermalukan teman-teman dan keluargaku. Aku harap, Jesus yang kucinta, akan menerimaku dan akhirnya akan menemukan kedamaian."

Halaman:


Video Pilihan

26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.