Jumat, 31 Oktober 2014

News / Internasional

Jepang Mengejutkan Eropa

Senin, 20 Mei 2013 | 08:22 WIB

TOKYO, KOMPAS.com - Langkah Perdana Menteri Jepang Shinzo Abe cukup berhasil memulihkan pendapatan korporasi. Keberhasilan Jepang ini membuat zona euro, yang tetap bertahan dengan kebijakan pengetatan anggaran lewat kebijakan fiskal, terperangah. Itu karena Jepang menjalankan kebijakan sebaliknya, yaitu melonggarkan moneter.

Sejak Abe menjadi PM pada Desember 2012, kebijakan moneter diperlonggar. Pemerintah mencetak lebih banyak yen. Bank Sentral Jepang juga membeli obligasi. Dampaknya adalah pertambahan peredaran uang yang mendorong konsumsi. Dampak lain adalah pelemahan kurs yen, yang membuat harga produk Jepang relatif lebih murah dalam dollar AS.

Nilai tukar mata uang bergerak dari 75 yen per dollar AS tahun 2001 menjadi 100 yen per dollar AS. Ada korporasi yang mengeluh, seperti Toshiba, karena mengimpor komponen- komponen produk. Ada keluhan warga karena kenaikan harga bahan bakar minyak dan produk- produk impor. Akan tetapi, dampak selebihnya positif, yakni melejitnya laba korporasi, seperti Sony, Toyota, dan Nissan.

”Saya sudah lama berbicara tentang kekuatan kurs yen yang luar biasa. Saya senang akhirnya melihat kita berada di wilayah netral dengan nilai tukar 100 yen per dollar AS,” kata CEO Nissan Carlos Ghosn, di Tokyo, Minggu (19/5).

Jepang mencatatkan pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) 0,9 persen pada kuartal I-2013. Ini membuat Jepang secara resmi keluar dari resesi setelah satu dekade mengalami kontraksi atau pertumbuhan ekonomi negatif.

Ada batas

Hal ini memberi tekanan kepada pembuat kebijakan di Eropa. ”Begitu berbeda! Eropa menjalankan pengetatan anggaran, sementara Jepang melonggarkan kebijakan,” kata ekonom senior dari Berenberg, Christian Schulz.

Menteri Pembaruan Industri Perancis Arnaud Monteberg menyerukan perubahan kebijakan. Dalam perdebatan dengan mantan ekonom Bank Sentral Eropa (ECB), Juergen Stark, Monteberg menekankan pentingnya pelonggaran. Sejumlah ekonom senior Organisasi untuk Kerja Sama Ekonomi dan Pembangunan (OECD) turut menyatakan saatnya zona euro melonggarkan kebijakan.

Namun, Jerman bersikeras menolak. Alasannya, melonggarkan kebijakan fiskal dengan menambah utang—karena anggaran negara Eropa defisit—hanya menambah timbunan utang. Bagi Jerman, kebijakan Jepang berisiko memicu perang kurs. Hal ini pernah memicu resesi besar pada dekade 1930-an. Bagi Jerman, memiliki kebijakan ekonomi dengan disiplin tidak akan merusak. Jerman adalah satu negara terkuat di dunia secara ekonomi.

Penekanan Jerman tidak selamanya buruk. Yunani kini memasuki resesi untuk tahun keenam. Namun, Yunani mulai memperlihatkan optimisme walau tingkat pengangguran masih relatif tinggi. Yunani mengalami perbaikan peringkat dari Fitch dengan status ”ada kemajuan”. Timbunan utang memaksa Yunani melakukan penghematan dan swastanisasi.

Ini penting karena Eropa tidak mungkin terus mempertahankan kebijakan dengan mengandalkan utang. Namun, keadaan di Eropa masih tetap sulit. Bayang-bayang tingkat pengangguran tinggi akan terus mendera kawasan ini. Selain karena pengetatan, penduduk yang menua juga akan terus mendera perekonomian kawasan ini beberapa dekade ke depan. (REUTERS/AFP/AP/MON)


Editor : Egidius Patnistik
Sumber: