Selasa, 16 September 2014

News / Internasional

Banjir Besar Hantam China

Minggu, 19 Mei 2013 | 08:34 WIB

BEIJING, KOMPAS.com - Banjir besar dan tanah longsor yang menghantam sembilan provinsi di China selatan menyebabkan 50 orang tewas dan 14 lainnya hilang. Guangdong, provinsi paling padat penduduk, dihantam banjir paling parah dengan sedikitnya 36 orang tewas, menurut keterangan Kementerian Urusan Umum China, Sabtu (18/5).

Hujan dengan intensitas sangat tinggi terjadi sejak Rabu dan Kamis lalu di lima kota di Provinsi Guangdong, termasuk ibu kota Guangzhou. Akibatnya, tinggi air di sejumlah sungai di Guangdong melewati batas bahaya. Sungai Beijiang bahkan dikabarkan berada pada level air tertinggi dalam 100 tahun terakhir.

Di sejumlah sungai, ketinggian air juga jauh melampaui batas bahaya dan mencapai ketinggian 31,22 meter, melesat di atas ambang batas 5,22 meter.

Kementerian Urusan Umum juga menjelaskan, enam orang tewas di Provinsi Jiangxi dalam rentetan bencana banjir paling mematikan sejak banjir besar pada Juni 2011 di China timur dan tengah.

Menurut China Daily, di Xiamen, Provinsi Fujian, hujan deras sejak Kamis yang menyebabkan tanah longsor telah menelan lima korban jiwa. Tiga orang tewas tertimbun tanah longsor, satu orang tersapu banjir, dan seorang lainnya terkena aliran listrik.

Menurut Zeng Demen, petugas paramiliter yang melakukan operasi penyelamatan di Xiamen, di beberapa ruas jalan ketinggian air mencapai lebih dari 1 meter.

Sebanyak 600 rumah terendam air bah di Xiamen, sementara sekitar 800 orang terperangkap di dalam rumah dan menunggu dievakuasi. Lebih dari 100 kendaraan roda empat juga terperangkap banjir di kota ini.

Tim penyelamat

Sejak Kamis, pejabat berwenang telah mengerahkan tim penyelamat dan sukarelawan ke wilayah-wilayah yang paling menderita.

Badan Meteorologi China memperingatkan, hujan besar akan terus tercurah di sekitar Guangdong pada Sabtu sore dan diperkirakan berlangsung lama. Kondisi ini membuat pemerintah mengeluarkan peringatan waspada karena hujan bakal disertai angin kencang. Banjir tampaknya masih menjadi ancaman bagi Guangdong selama beberapa hari ke depan.

”Hujan deras untuk waktu yang singkat saja akan memicu banjir besar dan tanah longsor di beberapa wilayah,” ujar Zhang Dong, pejabat Stasiun Meteorologi Guangdong.

Zong Yongmin, penduduk Desa Shixing, Guangdong bagian utara, mengatakan, sebagian besar rumah di desanya sudah disapu banjir sejak Kamis malam. ”Level air sungai di depan rumah saya sudah melewati ambang batas. Kami takut untuk pergi ke luar rumah,” ujar Zong (51).

Zong juga menuturkan, kegiatan sekolah di desanya sudah dihentikan sejak Kamis. Otoritas setempat meminta masyarakat waspada terhadap ketinggian air sungai yang terus meningkat.

Kantor berita Xinhua mengabarkan, hujan deras yang melanda Guangdong menyebabkan banjir meluas ke sejumlah provinsi di sekitarnya. Ibu kota Provinsi Guangdong, Guangzhou, yang merupakan salah satu pusat bisnis dan industri China, juga tidak luput dari terjangan air bah.

Sedikitnya 900.000 orang terkena dampak banjir kali ini. Xinhua mencatat 2.675 rumah hancur lebur akibat terjangan banjir yang bercampur lumpur akibat tanah longsor di sejumlah tempat.

Pejabat setempat menerangkan, air bah kemarin membuat sejumlah jalan bebas hambatan yang menghubungkan kota Heyuan dengan kota-kota lainnya lumpuh total. Perkiraan sementara kerugian yang ditimbulkan mencapai 2,58 miliar yuan atau sekitar Rp 4 triliun.

Banjir besar dan tanah longsor kemarin terjadi hanya dua bulan setelah Guangdong dilanda hujan badai disertai petir dan tornado yang menewaskan sembilan orang dan melukai 272 lainnya.

Badai menghantam kota Dongguan dengan kecepatan angin mencapai 176 kilometer per jam. Badai ini juga menyebabkan banjir setinggi setengah meter di sejumlah wilayah.

Tornado pada Maret lalu juga tercatat sebagai yang terkuat di Dongguan sejak Badan Meteorologi China melakukan pencatatan.

Bulan Juli tahun lalu, banjir besar juga melanda ibu kota China, Beijing. Banjir terbesar dalam 60 tahun terakhir itu menewaskan 37 orang.

Selain menghantam Beijing, hujan yang menyebabkan tanah longsor juga melanda Provinsi Sichuan dan menewaskan enam orang. Sementara itu, empat orang tersapu luapan air sungai di Provinsi Shanxi.

Pada Juni 2011, bencana banjir yang menerjang Provinsi Zhejiang dan Hubei telah membuat lebih dari 5 juta orang menderita.

Banjir besar pada Juni 2011, yang menewaskan 170 orang, merupakan yang terburuk sejak tahun 1955. Sebanyak 1.000 kegiatan bisnis terhenti dan lahan pertanian rusak sehingga harga bahan makanan melambung tidak terkendali. (BBC/joy)


Editor : Egidius Patnistik
Sumber: