Sabtu, 20 September 2014

News / Internasional

Orania, Kota Khusus Kulit Putih di Afrika Selatan

Jumat, 10 Mei 2013 | 14:18 WIB

ORANIA, KOMPAS.com - Selamat Datang di Orania, Afrika Selatan. Ini sebuah kawasan khusus untuk orang kulit putih yang didirikan tahun 1991, saat apartheid sedang sekarat.

Kota di wilayah Karoo yang jarang penduduknya itu dihuni hanya oleh para Afrikaner (keturunan bangsa Eropa aliran Calvinis di Afrika Selatan). Keturunan para pendantang berbahasa Belanda yang tiba di Afrika Selatan tahun 1652 bersama Jan van Riebeeck itu, kini mencapai enam persen dari populasi “Rainbow Nation” itu.

Namun di Orania mereka merupakan 100 persen dari populasi. Para Afrikaner itulah yang menjadi tulang punggung Partai Nasional yang memperkenalkan apartheid. Banyak warga Afrika Selatan menganggap bahwa warga Orania sebagai sisa-sisa bittereinders, sebuah istilah yang digunakan untuk pelaku Perang Boer, yang marah terhadap pemerintahan yang ada sekarang.

Namun, warganya mengatakan kota itu tidak rasis. Mereka berpendapat, Orania merupakan cara terbaik untuk melestarikan budaya dan bahasa Afrikaner dan menawarkan tempat perlindungan yang aman dari lingkungan sekitar rawan kejahatan.

"Kami aman di sini," kata Kobus Jonck, seorang warga. "Kami tidak khawatir tentang penguncian mobil-mobil kami pada malam hari, bahkan pintu (rumah) ... tidak pernah terkunci."

Sangat mudah untuk melihat mengapa beberapa orang mungkin menemukan bahwa itu pengaturan ideal. Kota itu dibangun di atas lahan seluas 8.000 hektar yang tadinya merupakan sebuah peternakan pribadi, di sepanjang Sungai Orange, di Provinsi Northern Cape yang indah tapi terpencil. Tidak ada bangunan bertingkat tinggi atau pabrik. Anak-anak berjalan tanpa alas kaki di antara rumah-rumah.

Menurut pihak berwenang kota, penduduknya yang sebanyak 1.000 orang bertambah sembilan persen per tahun.

Jonck, seorang peternak domba, menetap di Orania tahun 2012 bersama keluarganya setelah melalui proses wawancara dengan panitia kota.

"Ketika orang-orang baru datang ke Orania, mereka diwawancarai oleh sekelompok orang untuk memastikan bahwa mereka memiliki pemahaman yang cukup tentang kota itu," kata Carel Boshoff IV, putra almarhum pendiri kota, Carel Boshoff III.

Para pemimpin kota punya impian untuk mengubah kota itu menjadi sebuah negara merdeka buat warga minoritas Afrikaner, yang saat ini berjumlah tiga juta orang.

Sejalan dengan motto kota itu "bekerja untuk kebebasan", warga didorong untuk jadi mandiri, dan mayoritas dari mereka adalah petani atau pedagang. Mereka semua bekerja untuk mengembangkan dan membangun kota itu dan tenaga kerja disediakan oleh warga kota, dengan sesedikit mungkin yang berasal dari luar.

Seperti kota-kota lain, Orania dijalankan oleh sebuah dewan yang dipilih secara tahunan, demikian menurut Walikota Harry Theron. Kota itu punya toko-toko, sekolah dan bendera sendiri serta mata uang, yaitu ora, yang dipatok dengan matang uang Afrika Selatan, rand.

Namun tidak seperti kota-kota lain, orang kulit hitam tidak diterima di sini.

Di pintu masuk kota, sebuah patung Hendrik Verwoerd, arsitek apartheid, berdiri dengan gagah di antara ikon terkemuka lainnya dari Afrika Selatan zaman dahulu. Bendera kota berwarna biru, putih dan oranye, mirip dengan bendera apartheid, terlihat di mana-mana di seluruh kota.

Mungkin ironis, keberadaan Orania dilindungi berdasarkan pasal 235 Konstitusi Afrika Selatan yang menjamin hak untuk menentukan nasib sendiri. Undang-undang itu diadopsi setelah apartheid berakhir, menyusul bertahun-tahun pertempuran melawan sistem yang menetapkan sekat-sekat rasial itu.

"Republik ini berkembang," kata Quintin Diederichs, mantan pemain rugby yang menjadi penduduk kota itu tiga tahun lalu. "Kami punya lima puluh perusahaan yang telah kami buat dengan tangan kami sendiri," kata Diederichs.

Namun di bawah permukaan lingkungan yang tampaknya aman dan terjamin itu mengintai paranoia. Sebagian warga yakin bahwa suatu hari nanti orang-orang kulit hitam mungkin akan berbalik untuk melawan mereka. Seorang pelayan di sebuah bar mengatakan, ia takut "orang-orang kulit hitam Afrika Selatan akan membunuh semua orang kulit putih" ketika ikon perdamaian Nelson Mandela meninggal.

Pria 94-tahun itu, yang dipenjara oleh rezim apartheid, menjadi presiden kulit hitam pertama negara itu tahun 1994. Setelah dibebaskan dari penjara tahun 1990 ia berkhotbah tentang rekonsiliasi dan non-rasialisme. Orania boleh jadi bukan apa negarawan terhormat itu anggap sebagai Afrika Selatan yang baru.


Editor : Egidius Patnistik
Sumber: