Jumat, 24 Oktober 2014

News / Internasional

Kependudukan

Jumlah Penduduk Australia Capai 23 Juta

Selasa, 23 April 2013 | 07:07 WIB

SYDNEY, KOMPAS.com — Untuk pertama kalinya penduduk Australia secara resmi akan mencapai angka 23 juta pada Selasa (23/4/2013) malam.

Dengan banyaknya migran, Australia menjadi negara maju dengan pertumbuhan paling tinggi di dunia.

Menurut Biro Statistik Australia, jumlah penduduk akan mencapai 23 juta pada pukul 21.57 Selasa malam. Para peneliti sosial mengatakan, besar kemungkinan penduduk ke-23 juta itu adalah bayi laki-laki bernama Jack dengan ayahnya berusia 33 tahun dan ibunya berusia 31 tahun, dan mereka tinggal di Sydney Barat.

Menurut laporan smh.com.au, Selasa (23/4/2013), tentu saja Jack bukan nama sebenarnya. Namun, perkiraan ini didasarkan pada angka kelahiran, kematian, dan masuknya migran baru ke Australia dari data yang dikumpulkan sejak September tahun lalu.

Menurut statistik, tingkat pertumbuhan penduduk tahunan adalah 1,7 persen (pertambahan 1.048 jiwa setiap hari) merupakan yang paling tinggi dari negara maju. Di Amerika Serikat pertumbuhannya adalah 0,9 persen dan di Inggris 0,6 persen.

Pertumbuhan penduduk dunia saat ini adalah 1,1 persen, dengan angkanya sudah melebihi 7 miliar pada akhir tahun 2011.

Tingkat pertumbuhan penduduk Australia ini malah melebihi negara seperti India yang memiliki pertumbuhan 1,4 persen. Para ahli kependudukan mengatakan, migrasi menjadi pemicu utama pertumbuhan penduduk, bukan angka kelahiran.

Menurut laporan koresponden Kompas di Australia L Sastra Wijaya, kedatangan migran baru merupakan 60 persen dari pertambahan penduduk Australia tahun lalu, sementara proporsi dari kelahiran baru turun dari 60 persen menjadi 40 persen.

Menurut Bob Birrell dari Universitas Monash di Melbourne, tingkat kesuburan (jumlah anak per satu ibu) di Australia masih stabil di posisi 1,9.

"Sekarang ini mereka yang datang dengan visa berlibur dan bekerja, turis, warga Selandia Baru, dan pemegang visa 457 paling tinggi. Di Australia tidak ada pembatasan bagi visa berlibur dan bekerja sehingga orang-orang dari Irlandia dan Taiwan banyak yang datang karena di tempat mereka tidak ada pekerjaan," kata Birrell.


Penulis: L Sastra Wijaya
Editor : Agus Mulyadi