Senin, 28 Juli 2014

News / Internasional

Presiden Filipina Peringatkan Sultan Sulu

Selasa, 26 Februari 2013 | 18:11 WIB

MANILA, KOMPAS.com - Presiden Filipina, Benigno Aquino, memperingatkan seorang pemimpin kesultanan untuk mengakhiri upaya pendukungnya yang bersenjata dalam menduduki negara bagian Sabah, Malaysia.

Dalam pidato di televisi, Presiden Aquino mengatakan Sultan Jamalul Kiram III akan menghadapi 'kekuatan hukum penuh' jika pendukungnya tidak meninggalkan Lahad Datu.

Sekitar 180 orang mendarat di Lahad Datu pada pertengahan Februari dengan tujuan menguasai kawasan yang berdasarkan sejarah merupakan wilayah Kesultanan Sulu.

"Jika Anda tidak memilih untuk bekerja sama, kekutan penuh hukum negara akan digunakan untuk mencapai keadilan bagi semua orang yang berada dalam jalan yang berbahaya," seperti dinyatakan Presiden Aquino.

"Situasi ini tidak bisa bertahan. Jika Anda memang pemimpin yang sebenarnya dari rakyat Anda, Anda seharusnya bersama kami dalam memerintahkan pendukungmu untuk pulang dengan damai."

Aquino menambahkan bahwa penyelidikan juga akan digelar sehubungan dengan apakah ada undang-undang yang dilanggar dalam tindakan yang disebutnya 'bodoh'.

Para pendukung Sultan Jamalul Kiram III mendarat di negara bagian Sabah itu dengan menggunakan perahu motor dan 30 di antaranya bersenjata.

Kepolisian Malaysia mengepung kemah yang mereka dirikan dan meminta agar para pendatang meninggalkan tempat itu namun ditolak. 

Malaysia Masih Bayar Sewa

Seorang saudara Sultan, Agbinuddin Kiram -yang ikut dalam kelompok pendatang tersebut- mengatakan mereka tidak melanggar undang-undang apapun karena Sabah dimiliki oleh Kesultanan Sulu.

"Kami tidak menyerang tempat ini karema milik kami," tuturnya kepada kantor berita AP.

"Jika polisi Malaysia menggunakan senjata, maka kami harus mempertahankan diri."

Pemerintah Malaysia dan Filipina sudah sepakat untuk mengakhiri masalah ini dengan damai.

Filipina mengirimkan kapal Angkatan Lautnya yang membawa makanan dan pasokan obat serta pekerja sosial maupun pemimin Muslim untuk membujuk para pendukung Sultan meninggalkan Lahad Datu.

Negara bagian Sabah memiliki perbatasan laut dengan Filipina Selatan, yang memiliki sejumlah kelompok militan.

Di masa lalu, Sabah merupakan bagian dari Kesultanan Sulu, yang menjangkau beberapa kawasan Filipina Selatan termasuk Borneo, sebelum diserahkan kepada Inggris pada tahun 1880-an.

Tahun 1963, Sabah menjadi bagian dari Malaysia, yang masih membayar sewa tahunan sebagai perlambang kepada Kesultanan Sulu.

 


Editor : Ervan Hardoko
Sumber: