Sabtu, 1 November 2014

News / Internasional

Oposisi Mundur, Militer Assad Menguat di Aleppo

Kamis, 9 Agustus 2012 | 08:35 WIB

ALEPPO, KOMPAS.com - Pasukan perlawanan oposisi yang tengah memerangi rezim Presiden Suriah Bashar al-Assad di Aleppo mundur satu posisi dari pos terdepan selama ini di Distrik Salaheddine. Pos paling depan yang dikendalikan Tentara Pembebasan Suriah (FSA) sejak 20 Juli lalu telah direbut kembali oleh tentara rezim Assad, Rabu (8/8).

”Kami sudah mundur, keluar dari sana,” kata seorang anggota pasukan oposisi. Abu Firas, anggota FSA, menjelaskan, mereka mundur satu blok bangunan dari posisi awal di Salaheddine.

Sebuah sumber keamanan rezim Assad mengatakan kepada televisi Al-Manar, Lebanon, pasukannya telah menguasai Distrik Salaheddine. Namun, pihak Organisasi Pemantau Hak Asasi Manusia Suriah (SOHR) mengatakan, pertempuran sengit masih terjadi di distrik tersebut.

Dalam perkembangan lain, Menteri Luar Negeri Iran Ali Akbar Saleh mengakui, sebagian di antara 48 warga Iran yang diculik pasukan oposisi Suriah, 4 Agustus lalu, adalah mantan anggota Garda Revolusi Iran. Namun, Saleh membantah mereka masih memiliki koneksi militer dan berada di Suriah dalam rangka berziarah.

Sebelumnya, pihak oposisi di Suriah menuduh para warga Iran itu adalah anggota aktif Garda Revolusi Iran yang berada di Suriah dalam misi mata-mata. Iran menjadi sekutu setia rezim Assad selama konflik yang kini masuk bulan ke-17.

Dalam akun Facebook-nya, pihak oposisi Suriah, Senin lalu, mengatakan, tiga warga Iran yang diculik itu tewas dalam serangan artileri tentara pemerintah ke posisi pasukan oposisi tempat warga Iran itu ditahan. Nasib sandera yang lain belum diketahui.

Jenderal Rusia

Sementara itu, salah satu kelompok oposisi, Rabu, mengklaim telah membunuh seorang jenderal Rusia yang bekerja sebagai penasihat Kementerian Pertahanan Suriah dalam serangan di wilayah Ghouta di pinggiran kota Damaskus.

Dalam rekaman video yang dikirim kepada Reuters, pihak oposisi menunjukkan salinan kartu identitas perwira tinggi Rusia yang bernama Vladimir Petrovich Kochyev. Belum ada komentar resmi dari Rusia mengenai klaim tersebut.

Rusia selama ini selalu memberi dukungan diplomatik terhadap rezim Assad. Namun, jika klaim pihak oposisi mengenai kehadiran langsung personel militer Iran dan Rusia di Suriah ini benar, krisis di Suriah akan makin rumit mengingat begitu banyak pihak dari luar Suriah yang dilaporkan sudah terjun langsung ke negara itu.

Amnesty International (AI) kembali memperingatkan oposisi dan militer rezim untuk menghindari jatuhnya korban sipil di Aleppo. Lembaga ini mengatakan, dari gambar satelit terlihat ada penggunaan senjata berat secara intensif di kawasan permukiman di kota terbesar Suriah itu. Menurut AI, kedua pihak bisa dituntut secara kriminal apabila gagal melindungi warga sipil.(REUTERS/AFP/AP/CAL)


Editor : Egidius Patnistik
Sumber: