Selasa, 2 September 2014

News / Internasional

Agen Dinas Rahasia Terlibat 64 Pelanggaran Seksual?

Kamis, 24 Mei 2012 | 16:02 WIB

WASHINGTON, KOMPAS.com - Para agen Secret Service (Dinas Rahasia) AS dituduh telah melakukan lebih dari 60 tindakan pelecehan seksual dalam beberapa tahun terakhir. Hal itu terungkap, Rabu (23/5/2012), saat direktur Secret Service dicecar para senator terkait penanganannya terhadap skandal pekerja seks di Kolombia beberapa waktu lalu.

Enam minggu setelah tersingkap bahwa para anggota pengawal elite Presiden Barack Obama menyewa pekerja seks sebelum KTT di Kolombia, Direktur Secret Service, Mark Sullivan, meminta maaf kepada sidang kongres tetapi membantah adanya budaya memakai jasa pekerja seks yang berlaku luas di kalangan agen-agennya.  Namun, klaimnya untuk menegakkan kebijakan "toleransi nol" terhadap perilaku buruk para agen disambut dengan skeptis oleh sebuah komite Senator AS, yang justru merinci daftar panjang dugaan perbuatan tidak pantas para agen Secret Service. Senator Joe Lieberman mengatakan, catatan Dinas Rahasia itu sendiri menunjukkan, ada 64 tuduhan atau keluhan tentang perilaku seksual oleh aggota badan itu dalam lima tahun terakhir.

Lieberman mengatakan, seorang agen bahkan dituduh melakukan pemerkosaan atau hubungan seksual bukan atas dasar suka sama suka. Sementara Sullivan mengakui, seorang agen lain telah dipecat setelah mencoba untuk menyewa pekerja seks di Washington, yang ternyata seorang perwira polisi yang menyamar.

Para senator berpendapat, catatan panjang itu menunjukkan bukti bahwa insiden pada April di Cartagena, Kolombia, bukan sesuatu yang berdiri sendiri. Delapan agen sejauh ini kehilangan pekerjaan terkait skandal itu. Skandal itu muncul setelah salah seorang dari mereka menolak untuk membayar jasa pekerja seks yang konon telah dijanjikan untuk dibayar 800 dollar AS.

Senator Susan Collins, anggota paling senior Partai Republik di Komite Urusan Keamanan Dalam Negeri dan Pemerintah, mengatakan, insiden Kolombia "secara moral menjijikkan" dan "bukan peristiwa yang baru sekali terjadi". "Keadaan itu sayangnya menunjukkan sebuah problem budaya," katanya.

Sullivan, yang sejauh ini tetap mempertahankan pekerjaannya, mengatakan ia bisa "memahami" tuduhan itu. Namun ia menegaskan, sebagian besar dari 7.000 orang karyawannya termasuk di antara pegawai pemerintahan AS "yang paling berdedikasi, paling bekerja keras, dan rela berkorban". Dia menambahkan, skandal tersebut merupakan ulah minoritas orang dan ia meminta maaf "atas kelakuan mereka itu dan gangguan yang ditimbulkan."


Editor : Egidius Patnistik
Sumber: