Rabu, 20 Agustus 2014

News / Internasional

Propaganda dalam Acara Seremonial ala Korea Utara

Rabu, 18 April 2012 | 06:12 WIB

Walau hampir 18 tahun meninggal dunia, hari kelahiran pendiri negara komunis otoriter Korea Utara, Kim Il Sung, tetap diperingati. Rakyat Korut bahkan diperintahkan untuk berkumpul di Pyongyang, meramaikan pesta peringatan 100 tahun kelahiran bapak bangsa mereka yang lahir pada 15 April 1912.

Parade pasukan dan kekuatan militer digelar secara besar-besaran hari Minggu. Padahal, baru dua hari sebelumnya negeri itu mempermalukan diri sendiri setelah kegagalan meluncurkan roket jarak jauhnya. Roket Ulna-3, yang diluncurkan sebagai bagian dari rangkaian peringatan hari lahir Il Sung, jatuh dan meledak berkeping-keping tak lama setelah mengangkasa.

Sejak beberapa pekan sebelumnya, isu roket itu mengundang kecaman internasional. Korut berkeras roket itu hanya mengangkut satelit komunikasi, sedangkan dunia curiga roket itu merupakan peluru kendali balistik, yang bisa dengan mudah dipasangi hulu ledak nuklir.

Selain parade kekuatan militer, ratusan ribu warga sipil pun wajib berpartisipasi dalam perayaan. Mereka dikumpulkan di lapangan utama kota Pyongyang. Kaum pria berpakaian putih dan berdasi, sedangkan perempuan bergaun tradisional hanbok warna-warni. Mereka dilatih 20 hari berturut-turut untuk pergelaran tarian kolosal itu.

Rangkaian lagu-lagu berjudul klise berisi propaganda juga dilantunkan. Dimulai dengan lagu karangan Il Sung berjudul ”My Homeland”, diikuti sebuah lagu yang bercerita tentang produk tekstil Vinalon, yang kerap dijadikan ”contoh nyata” prinsip kemandirian (juche).

Selain itu, ada juga lagu puja-puji kepada Dinasti Kim, seperti lagu ”Hurrah for Generalissimo Kim Il Sung” dan ”Safeguard Supreme Commander Kim Jong Un with our Lives”.

Kesenian sejak lama menjadi subordinasi propaganda di negeri ini. Perayaan juga diikuti pertunjukan pesta kembang api megah.

Tak bisa disangkal, berbagai macam seremoni kolosal yang kerap digelar memang sekadar untuk memelihara ”loyalitas” rakyat demi melanggengkan kekuasaan Dinasti Kim, yang kini memasuki generasi ketiga.

Padahal, diyakini ada jutaan penduduk negeri salah urus itu yang menderita kelaparan akibat bangkrutnya perekonomian. Seperti kembali digaungkan pemimpin barunya, Kim Jong Un, pemerintah tetap berkomitmen melanjutkan kebijakan mengutamakan militer dan program nuklir. (AFP/DWA)


Editor : Egidius Patnistik
Sumber: