Jumat, 29 Agustus 2014

News / Internasional

PBB Upayakan Transfer Teknologi Ketahanan Pangan di Asia

Selasa, 13 Maret 2012 | 15:38 WIB

BOGOR, KOMPAS.com - Perkembangan sektor pertanian berjalan lambat di Asia Selatan dan Asia Tenggara. Padahal sektor itulah tulang punggung perekonomian negara-negara di kawasan itu. Dampak Revolusi Hijau tidak begitu terasa di kasawan, terutama bagi golongan masyarakat miskin.

Kelambatan terjadi karena langkanya teknologi alternatif dalam memenuhi kebutuhan para petani miskin dan kekurangsempurnaan metodologi penyebaran dan pembaruan teknologi, serta akses pasar untuk petani miskin. Direktur Pusat Penanggulangan Kemiskinan Melalui Pertanian Berkelanjutan (CAPSA), Kantika M Weinberger mengemukakan hal itu di Bogor, Selasa (13/3/2012). CAPSA bernaung di bawah Komisi Sosial Ekonomi Asia Pasisik PBB (UNESCAP).

Karena itu, UNESCAP bekerjasama dengan Uni Eropa (EU) melakukan upaya untuk mendukung inovasi teknologi pertanian yang berkelanjutan dan fasilitas perdagangan dalam rangka meningkatkan ketahanan pangan dan nutrisi bagi masyrakat miskin di kawasan Asia Selatan dan Asia Tenggara. Mayoritas masyarakat miskin dunia bermukim di negara-negara di dua kawasan itu. Proporsi tertinggi masyarakat bergizi buruk juga terdapat di dua kawasan tersebut.

Menurut Weinberger, kemiskinan dan gizi buruk masih menjadi masalah serius di dua kawasan itu. Kalaupun persedian makanan ada, daya beli yang rendah membuat mereka tidak punya akses ke makanan, apalagi makanan bergizi baik.

Karena itu, CAPSA-ESCAP, sebagai langkah awal, menyelenggarakan workshop bertajuk "Network for Knowledge Transfer on Sustainable Agriculture Technologies and Improved Market Linkgages in South dan Southeast Asia (SATNET)" pada 13-14 Maret di Bogor. Workshop itu bertujuan untuk berbagi pengalaman dan kontribusi dari masing-masing institusi yang terlibat bagi kemajuan pertanian, fasilitas perdagangan, pengembangan kapasitas, dan untuk mendapatkan kesepakatan dalam menjalankan work plan. Peserta workshop itu berasal dari Afganistan, Banglades, Bhutan, Kamboja, India, Indonesia, Myanmar, Nepal, Pakistan.

Para peserta umunya menyatakan, mereka ingin belajar dari kisah-kisah sukses dan pengalaman perserta lain untuk diterapkan ke negara masing-masing.  "Kita ingin tahun bagaimana cara Nepal misalnya membangun pertanian di lereng. Negara itu berada sekitar 4.000 meter di atas permukaan laut dan konturnya berlereng. Kita ingin dengar dan belajar dari mereka. Lahan pertanian kita juga banyak yang berlereng," kata Hasil Sembiring, direktur Pusat Penelitian dan Pengembangan Bahan Pangan Indonesia.


Editor : Egidius Patnistik