Rabu, 23 Juli 2014

News / Internasional

Provokasi

Dua Korea Masih Perang Kata-kata

Rabu, 7 Maret 2012 | 16:45 WIB

KOMPAS.com - Dua Korea masih terlibat perang kata-kata. Buktinya, sebagaimana warta AP dan AFP pada Rabu (7/3/2012), Menteri Pertahanan Korea Selatan (Korsel) Kim Kwan-Jin mendesak tentaranya melakukan serangan balasan kuat ke Utara. Sebetulnya, kedua Korea sudah bersepakat soal nuklir belum lama ini.

Kwan-Jin mengatakan setiap serangan baru dari Korut harus berubah menjadi satu peluang bagi militer Korsel untuk membalas penembakan Korut pada 2010 ke satu pulau garis depan Korsel. "Jika Korut melancarkan aksi provokatif, anda harus menghukum mereka dengan keras dengan menggempur tidak hanya asal provoksi-provokasi seperti itu tetapi juga satuan-satuan pendukung mereka sampai mereka menyerah seluruhnya," kata menteri itu.
    
Kwan-Jin mengeluarkan pernyataan itu ketika mengunjungi pulau Yeonpyeong dekat perbatasan Laut Kuning yang disengketakan. Pulau itu  ditembaki artileri Korut pada 2010. Insiden itu menewaskan empat warga Korsel dan menimbulkan kekhawatiran timbul perang baru. Penembakan itu terjadi saat ketegangan meningkat setelah Korsel menuduh Korut menorpedo sebuah kapal perang Korsel Cheonan Maret 2009 yang menewaskan 46 pelautnya.
    
Kunjungan Kim ke Yeonpyeong itu dilakukan 10 hari setelah pemimpin baru Korut Kim Jong-Un memeriksa satuan artileri pantai yang menembaki pulau itu, mendesak tentara melancarkan serangan balasan yang kuat jika Korsel melakukan provokasi. "Militer harus membalas dengan kuat dan menyeluruh sebagai satu pembalasan atas tenggelamnya Cheonan dan penembakan pulau Yeonpyeong," kata Kim.
    
Pyongyang pekan lalu mengatakan pihaknya akan menangguhkan uji coba nuklir dan program pengayaan uraniumnya dengan imbalan bantuan pangan AS tetapi hubungan dengan Seoul tetap beku.
    
Korea Utara mengancam akan melakukan perang suci terhadap Korsel. Korut mengecap latihan militer gabungan AS-Korsel  sebagai satu deklarasi perang secara diam-diam dan menuduh Korsel menghina dan mencemarkan nama baik para pemimpinnya. "Retorika permusuhan belum lama ini dan kunjungan yang sering dilakukan ke kesatuan-kesatuan militer oleh pemimpinnya menunjukkan peralihan kekuasaannya belum rampung," kata menteri itu.
    
Para pejabat Korsel mengatakan Korut kemungkinan meningkatkan serangan-serangan terhadap Korsel dalam usaha untk memengaruhi pemilu mendatang.

 

 

Penulis: Josephus Primus
Editor : Josephus Primus