Jumat, 24 Oktober 2014

News / Internasional

Bilateral

China dan India Bicarakan Hubungan

Kamis, 1 Maret 2012 | 17:30 WIB
KOMPAS.com - Melalui Menteri Luar Negeri Yang Jeichi yang tengah bertandang ke India, China membicarakan hubungan kedua negara. Dari New Delhi, Menteri Luar Negeri India SM Khrisna menjadi tokoh yang berbicara dengan Jeichi.
Menurut warta AP dan AFP pada Kamis (1/3/2012), Jeichi tiba kemarin. "Pembicaraan utama akan fokus pada persiapan pertemuan puncak yang disebut negara-negara BRIC - Brasil, Rusia, India, China, dan Afrika Selatan - di New Delhi pada akhir Maret," kata juru bicara kementerian luar negeri Syed Akbaruddin.
   
Brasil, India, dan Afrika Selatan telah melobi untuk mengubah pertumbuhan ekonomi mereka yang makin berpengaruh dalam hubungan diplomatik yang lebih besar dengan mengamankan kursi tetap di Dewan Keamanan PBB.
 
Selanjutnya, Akbaruddin mengatakan, pembicaraan juga akan menyentuh pada semua masalah dalam hubungan China-India. Tapi, ia menambahkan bahwa pertemuan tidak dijadwalkan antara Yang dan Perdana Menteri Manmohan Singh.
   
Hubungan-hubungan antarnegara tetangga ini tidak pernah mudah dan sengketa perbatasan selalu memicu perang singkat, namun berdarah pada 1962 dan tetap menjadi sumber ketegangan dan memperdalam ketidakpercayaan.
   
Lima belas putaran pembicaraan tentang masalah perbatasan tidak menghasilkan kemajuan dan India khawatir China menjadi lebih tegas tentang klaim teritorialnya.
   
China mengklaim negara bagian India timur laut Arunachal Pradesh sebagai wilayahnya dan mengkritik kunjungan terakhir di sana oleh Menteri Pertahanan India AK Antony sebagai provokatif.
   
Krishna telah menjawab dengan pedas bahwa India tidak akan memberikan toleransi gangguan eksternal dari China ke India untuk urusan teritorial.
   
Ada juga ketegangan luar perbatasan bersama mereka, terutama dalam daerah-daerah yang kaya sumber daya seperti Laut China Selatan, tempat kedua negara adalah terlibat dalam eksplorasi energi untuk pertumbuhan pesat kebutuhan  bahan bakar ekonomi mereka.
   
Masalah mengganggu lain bagi China adalah adanya pemimpin rohani masyarakat Tibet di pengasingan Dalai Lama, yang telah tinggal di Daramsala, India sejak melarikan diri dari pemberontakan yang gagal
terhadap kekuasaan China pada 1959.

Penulis: Josephus Primus
Editor : Josephus Primus