Sabtu, 2 Agustus 2014

News / Internasional

Periksa Segera Keretakan Airbus A380

Jumat, 20 Januari 2012 | 22:36 WIB

PARIS, KOMPAS.com -- Badan Keselamatan Penerbangan Eropa (EASA), Jumat (20/1/2012), merekomendasikan pemeriksaan atas setengah dari jumlah pesawat superjumbo Airbus A380 yang sedang beroperasi. Rekomendasi itu menyusul ditemukannya keretakan baru pada bagian sayap pesawat raksasa itu.

"Jika tak bisa dideteksi atau diperbaiki, kondisi ini berdampak potensial pada struktur keseluruhan pesawat," demikian pernyataan EASA.

Pemeriksaan ini penting terutama atas pesawat Airbus A380 yang sering terbang. Sumber yang dekat dengan masalah ini mengemukakan, mereka menuntut pemeriksaan atas sembilan dari 67 unit pesawat A380 yang beroperasi diseluruh dunia dalam waktu empat hari. Sementara itu, 21 pesawat Airbus A380 lainnya diharuskan diperiksa dalam enam pekan.

EASA mengungkapkan, gejala baru dari keretakan itu kian signifikan dibanding keretakan sebelumnya yang ditemukan pada kaki rusuk sayap.

Pesawat Airbus A380 terdiri dari dua lantai, berbadan lebar dan digerakkan oleh empat mesin jet. Pesawat ini diproduksi perusahaan konsorsium negara-negara Eropa, Airbus yang bermarkas di Perancis.

Airbus A380 merupakan pesawat penumpang terbesar di dunia. Banyak bandara di dunia harus memodifikasi garbarata dan bandaranya untuk bisa menerima kedatangan Airbus A380.

Pesawat yang didesain untuk menaklukkan dominasi Boeing 747 dalam produksi pesawat berbadan lebar, melakukan penerbangan perdana 27 April 2005. Pesawat ini melakukan penerbangan komersial perdana Oktober 2007 oleh Singapore Airlines.

Airbus A380-800 memiliki luas kabin 478 meter persegi, 49 persen lebih luas dari luas yang disediakan pesawat yang ada sebelumya. Boeing 747-400 hanya memiliki luas 321 meter persegi.

Airbus A380 bisa membawa 525 penumpang dalam tiga kelas, atau 853 penumpang jika seluruhnya kelas ekonomi. Pesawat ini bisa terbang sejauh 15.400 kilometer atau dari New York ke Hong Kong dengan kecepatan 900 kilometer per jam.


Penulis: Pieter P Gero
Editor : Nasru Alam Aziz
Sumber: