Sabtu, 25 Oktober 2014

News / Internasional

Video Kebrutalan Militer Mesir

Selasa, 20 Desember 2011 | 11:17 WIB

KAIRO, KOMPAS.com — Gambar-gambar yang sangat mengguncang telah menyingkap kebrutalan angkatan bersenjata Mesir dalam memadamkan  protes yang terjadi pada Minggu (18/12/2011).

Dalam sebuah video yang beredar di internet, pasukan keamanan anti-hura-hara negara itu terlihat mengejar seorang perempuan dan memukulinya berkali-kali dengan batang logam sehingga terjatuh ke tanah, serta menyebabkannya menjadi setengah telanjang. Setelah jatuh, perempuan itu ditendang berulang kali. Perempuan itu tergeletak tak berdaya di tanah, bajunya terbuka, bra-nya jelas kelihatan. Seorang pria menendang dengan kekuatan penuh ke arah dadanya yang terbuka itu.

Beberapa saat sebelumnya, ia dipukul berkali-kali di kepala dan tubuh dengan tongkat logam. Seakan tak puas dengan pemukulan brutal yang dilancarkan rekan-rekannya sesama tentara, seorang tentara menginjak kepalanya berulang kali. Perempuan itu dengan lemah mencoba untuk melindungi kepalanya dari pukulan tanpa henti itu dengan tangannya. Namun, dia kemudian tak sadarkan diri dalam serangan yang memalukan itu, dan dia dibiarkan tergeletak tak bergerak.

Sebelum dia diserang para petugas, tiga pria tampak menariknya saat mereka mencoba melarikan diri dari militer yang mendekat. Namun, mereka terlalu lambat, dan tentara mengejar mereka, menangkap perempuan itu, serta menjatuhkan salah seorang pria itu ke tanah. Dua pria lain terpaksa meninggalkan mereka dan terus berlari. Dua pria yang lolos itu tak berdaya melihat ke arah dua temannya yang ditinggalkan, dan terus-menerus dipukuli ketika mereka sudah berbaring di tanah.

Perempuan yang tak disebutkan namanya itu, Senin, tidak mau tampil karena merasa malu dengan perlakuan yang dialaminya. Rekaman video dan fotonya ketika dipukuli, ditendang, dan akhirnya tersungkur di tanah di Tahrir Square, Kairo, itu telah menjadi berita utama di seluruh dunia.

Mahmoud Hassan, seorang jurnalis harian Al Badeel, berada di dekat perempuan itu saat ia tersandung dan kemudian dihajar polisi militer. Hassan mengatakan kepada harian Inggris, The Guardian, "Mereka (militer) ingin membawanya pergi, tetapi kemudian sejumlah demonstran yang berani muncul dan mulai melemparkan batu. (Lemparan) itu merupakan satu hal yang menyelamatkannya dari tangan mereka."

Perempuan tersebut dirawat karena cedera di tangan dan kaki. Namun, ia sudah pulang ke rumah dan mengatakan apa yang menimpanya merupakan suatu kemalangan.

Perempuan itu, sebagaimana dikutip Hassan, mengatakan, "Tak masalah jika saya berbicara (kepada media) atau tidak. Mereka sudah menelanjangi saya, (itu) sudah cukup untuk mengungkapkan siapa mereka dan memberi pesan yang cukup bagi orang yang masih percaya kepada mereka."

Mohamed Zeidan, yang memfilmkan adegan pemukulan itu dari balkon yang menghadap Tahrir Square, mengatakan, ia berhenti merekam karena takut ketahuan. "Para tentara itu seperti burung pemakan bangkai yang menemukan mangsa," katanya. "Para tentara bahkan memukul pasangan yang lebih tua yang mencoba untuk membantu perempuan itu berdiri."

Sebuah video lain menunjukkan, tentara menyerang seorang perempuan tua saat bentrokan meletus antara demonstran dan pasukan keamanan pada hari itu. Khadiga al-Hennawy, nama perempuan tua itu, terlihat tengah ditarik rambutnya oleh dua petugas, sebelum ditendang dan dipukuli di sekitar lengan dan punggungnya dengan tongkat. Ia dikenal sebagai "ibu revolusioner" karena turut ambil bagian dalam sejumlah protes terhadap Dewan Tertinggi Angkatan Bersenjata Mesir.

Ratusan prajurit yang mengenakan perlengkapan anti-kerusuhan, Senin, melakukan pembersihan lebih lanjut di Tahrir Square dan menembaki pemrotes yang menuntut diakhirinya kekuasaan militer. Departemen Kesehatan mengatakan, setidaknya tiga orang tewas. Dengan demikian, jumlah korban tewas selama empat hari terakhir bentrokan itu  menjadi 14 orang.

Bentrokan telah berkecamuk di ibu kota itu sejak Jumat, ketika pasukan militer yang menjaga gedung Kabinet di dekat Tahrir Square menumpas aksi protes yang sudah berlangsung tiga minggu, yang menuntut jenderal yang berkuasa segera menyerahkan kekuasaan kepada otoritas sipil.


Editor : Egidius Patnistik
Sumber: