Sabtu, 26 Juli 2014

News / Internasional

Iran Bersiap Perang

Selasa, 6 Desember 2011 | 10:05 WIB

TEHERAN, KOMPAS.com Pengawal Revolusi Iran bersiap perang di tengah meningkatnya tanda-tanda bahwa Barat melakukan tindakan langsung untuk melumpuhkan program nuklir Iran. Demikian diberitakan harian Inggris, The Telegraph, dalam situs webnya, Senin (5/12/2011).

Sebuah perintah dari Jenderal Mohammad Ali Jaafari, komandan para pengawal, telah menaikkan status kesiagaan operasional pasukan negara itu dan memulai persiapan menghadapi potensi serangan eksternal dan serangan rahasia. Para pejabat intelijen Barat, seperti dikutip Telegraph, mengatakan, Republik Islam itu telah memulai sejumlah rencana untuk menyebarkan rudal jarak jauh, bom berdaya ledak tinggi, unit-unit pasukan artileri, dan pengawal ke posisi pertahanan kunci.

Perintah itu diberikan sebagai tanggapan atas tekanan internasional yang meningkat terhadap program nuklir Iran. Persiapan bagi sebuah konfrontasi meningkat cepat menyusul laporan Badan Energi Atom Internasional (IAEA) bulan lalu di Vienna yang menyatakan ada bukti bahwa Iran secara aktif telah bekerja untuk menghasilkan senjata nuklir. Para pemimpin Iran takut negara itu menjadi sasaran serangan terkoordinasi intelijen Barat dan badan-badan keamanan untuk menghancurkan elemen-elemen kunci infrastruktur nuklirnya.

Ledakan di fasilitas pengujian rudalnya baru-baru ini telah menguatkan paranoia Iran itu. Rezim negara itu takut Iran akan menjadi target serangan kejutan militer Israel atau AS. Program rudal balistiknya mengalami kemunduran besar pada 12 November setelah sebuah ledakan terjadi di fasilitas pengujian utama rudal rezim itu di Bidganeh, sekitar 30 mil di sebelah barat Teheran. Setidaknya 17 orang tewas dalam insiden itu, termasuk Jenderal Hassan Tehrani Moghaddam, kepala program riset rudal Iran.

Laporan IAEA mengatakan, para ilmuwan Iran telah bekerja untuk mengembangkan sebuah rudal yang mampu membawa hulu ledak nuklir. Para analis keamanan menjelaskan, kemajuan pengembangan rudal Iran sebagai sebuah "titik balik" yang punya "implikasi strategis yang mendalam". Minggu lalu, sebuah ledakan misterius lain menyebabkan kerusakan signifikan pada fasilitas konversi uranium Iran di Isfahan.

"Ini terlihat seperti bentuk perang abad ke-21," kata Patrick Clawson dari Washington Institute untuk Kebijakan Timur Dekat, sebuah lembaga think tank Washington, kepada Los Angeles Times.

Ayatullah Ali Khamenei, pemimpin spiritual Iran, mengeluarkan sebuah arahan untuk para kepala intelijen militer dan organisasi keamanan negara itu guna mengambil semua langkah yang diperlukan demi melindungi rezim Iran. Jenderal Jaafari menanggapi arahan itu dengan memerintah unit-unit Pengawal Revolusi untuk meredistribusikan rudal-rudal jarak jauh Iran, yaitu Shahab, ke tempat-tempat rahasia di seluruh negara itu agar rudal-rudal itu aman dari serangan musuh dan dapat digunakan untuk memulai serangan balasan.

Selain itu, angkatan udara Iran telah membentuk sejumlah "unit reaksi cepat", yang telah melakukan latihan besar-besaran untuk mempraktikkan reaksi atas serangan udara musuh.

Akhir pekan lalu, Iran mengklaim berhasil menembak jatuh sebuah pesawat canggih tanpa awak AS, RQ-170, di timur negara itu. Jika benar, itu akan melambangkan sebuah kudeta bagi para ayatullah karena jenis pesawat siluman ini berisi teknologi sensitif yang memungkinkannya untuk beroperasi selama berjam-jam tanpa terdeteksi. Seorang juru bicara Pasukan Bantuan Keamanan Internasional NATO di Afganistan hanya menegaskan bahwa para operator AS telah "kehilangan kendali" atas sebuah pesawat tak berawak, tanpa menentukan modelnya.

Para pejabat intelijen percaya, permainan berbahaya kucing dan tikus antara Iran dan Barat telah bertanggung jawab atas serangan massa demonstran terhadap Kedutaan Besar Inggris di Teheran pekan lalu. William Hague, Menteri Luar Negeri Inggris, telah menutup kedutaan Inggris di Iran dan mengusir para diplomat Iran dari London sebagai tanggapan.

Namun, karena Iran tidak menunjukkan tanda-tanda akan mengendurkan program nuklirnya, ada kekhawatiran bahwa Israel akan melancarkan aksi militer sepihak. Akhir pekan lalu, Benjamin Netanyahu, Perdana Menteri Israel, memperingatkan bahwa ia akan mengambil "keputusan yang tepat pada saat yang tepat" jika Iran melanjutkan program pengayaan uraniumnya.

Pendekatan tanpa kompromi Israel itu memicu peringatan dari Washington. Leon Panetta, Menteri Pertahanan AS, telah memperingatkan, serangan sepihak Israel berisiko menimbulkan sebuah "eskalasi" yang bisa "menyebabkan Timur Tengah berada dalam konfrontasi dan konflik yang akan kita sesali".

Seorang pejabat intelijen senior Barat mengatakan, "Ada keprihatinan mendalam dalam kepemimpinan senior di rezim Iran bahwa mereka akan menjadi target dari serangan militer mengejutkan Israel atau Amerika Serikat. Untuk alasan itu, mereka sedang melakukan semua tindakan yang diperlukan demi memastikan mereka dapat mempertahankan diri dengan baik jika serangan itu terjadi."


Editor : Egidius Patnistik
Sumber: