Jumat, 25 Juli 2014

News /

UKRAINA

Tokoh Revolusi Oranye Dihukum, Eropa Berang

Rabu, 12 Oktober 2011 | 02:25 WIB

Kiev, Selasa - Mantan Perdana Menteri Ukraina, yang juga tokoh Revolusi Oranye, Yulia Tymoshenko, dijatuhi hukuman penjara selama tujuh tahun. Pendukung Tymoshenko langsung menyampaikan protes, demikian pula pihak Uni Eropa.

Hakim bernama Rodion Kireyev menyatakan, Tymoshenko (50) bersalah karena melampaui batas wewenangnya saat menandatangani kontrak impor gas alam dari Rusia pada tahun 2009 saat menjabat sebagai PM.

Tokoh prodemokrasi yang pernah menggetarkan dunia politik Ukraina pada tahun 2004 juga dilarang berpolitik tiga tahun setelah merampungkan masa tahanan. Dia juga didenda 1,5 miliar hryvna (setara 190 juta dollar AS).

Tymoshenko langsung menuduh Presiden Viktor Yanukovych sebagai pihak yang berada di balik keputusan hakim. Dia menuduh Presiden tidak mau repot dengan menghadapi pesaing politiknya pada pemilu parlemen 2012.

Bintang petinju Ukraina, Vitali Klitschko, menyebutkan, putusan itu sebagai politik bunuh diri oleh Presiden, yang pro-Rusia dan besar di sebuah wilayah berbahasa Rusia di Ukraina.

Perebutan pengaruh antara Rusia dan Eropa di Ukraina terus melekat hingga sekarang. Petinju Ukraina mengatakan, tindakan Presiden akan membuat Ukraina menghadapi jalan sulit untuk bergabung dengan Uni Eropa.

Perdana Menteri Rusia Vladimir Putin, yang sedang berada di Beijing, China, mengatakan tidak mengerti mengapa Tymoshenko dihukum.

Hubungan akan terganggu

Ketua Komisi Kebijakan Luar Negeri Uni Eropa Catherine Ashton di Brussels, Belgia, mengatakan, putusan itu akan mengganggu semua hubungan bilateral Ukraina-UE. Ashton mengatakan, keputusan itu bermotif politik dan bertujuan meredam politisi oposisi.

Ashton menambahkan, jika Tymoshenko benar-benar dipenjarakan, semua kesepakatan politik dan ekonomi UE-Ukraina tidak akan pernah diwujudkan.

UE menuduh keputusan terhadap Tymoshenko jelas-jelas lebih bersifat administratif ketimbang murni kriminal.

Menlu Ukraina Kostyantyn Gryshchenko, yang sedang berkunjung ke Brussels, mengatakan agar semua pihak menghormati keputusan pengadilan, yang tidak dipengaruhi pemerintah.

(AP/AFP/REUTERS/MON)


Editor :