KOMPAS
Rabu, 10 Februari 2010 Selamat Datang  |     |  
Keluarga Ampatuan Dicekal
Sabtu, 28 November 2009 | 08:37 WIB
AP PHOTO/BULLIT MARQUEZ
Andal Ampatuan Jr, Wali Kota Datu Unsay, di Provinsi Maguindanao, Filipina selatan, difoto saat di dalam tahanan Biro Investigasi Nasional (NBI), Manila, Jumat (27/11). Ampatuan terlibat pembunuhan terhadap 57 anggota klan Mangudadatu, termasuk sejumlah wartawan dan warga yang sedang lewat saat pembantaian terjadi. Ampatuan tidak saja memerintahkan, tetapi turut melakukan penembakan.
TERKAIT:

AMPATUAN, KOMPAS.com — Politisi sekaligus Wali Kota Datu Unsay Andal Ampatuan Junior, Jumat (27/11), didakwa melakukan pembunuhan massal. Andal Ampatuan Senior, Gubernur Provinsi Maguindanao, yang juga ayah Andal Jr, bersama delapan anggota keluarga Ampatuan juga disidik dan dicekal pemerintah, terkait pembunuhan keluarga besar Mangudadatu, pengacara, dan wartawan.

Ampatuan Jr (40), yang menyerahkan diri pada Kamis (26/11), berkelit terlibat pembunuhan terhadap klan Mangudadatu, rival politik keluarga Ampatuan. Klan Ampatuan tak ingin klan Mangudadatu mencalonkan diri sebagai gubernur di Filipina selatan, yang sejak tahun 2001 dikuasai keluarga Ampatuan.

Ampatuan Jr menuduh kelompok Front Pembebasan Islam Moro (MILF) sebagai pelakunya. Akan tetapi, hal itu dibantah juru bicara MILF dan pemerintah. ”Dialah yang memberikan perintah. Dia juga berada di antara mereka yang membunuh para korban,” ucap Menteri Kehakiman Agnes Devanadera.

Devanedera menambahkan, delapan anggota keluarga Ampatuan, termasuk Gubernur Maguindanao, ikut disidik dan tidak diizinkan keluar dari Filipina.

Devanadera mengungkapkan, saksi-saksi mata mengatakan kepada jaksa bahwa Ampatuan Jr memerintahkan milisi pribadinya yang terdiri dari 100 lebih orang bersenjata untuk menembak rombongan keluarga Mangudadatu di kawasan peternakan terpencil di Provinsi Maguindanao, Senin (23/11).

”Sangat mengerikan. Saya tidak bisa menggambarkannya,” kata Menteri Kehakiman itu kepada jaringan televisi GMA, sambil menambahkan bahwa dia telah melihat mayat-mayat dan kesaksian, banyak dari mereka yang terlibat dalam pembunuhan tersebut.

Devanadera juga menyebutkan, banyak yang terlibat dalam pembunuhan menyampaikan bahwa Ampatuan Jr berada di lokasi kejadian dan memerintahkan mereka menembak.

”Bahkan dia sendiri pun menembak beberapa orang. Mereka memberikan kesaksian karena rasa bersalah yang mereka rasakan. Mereka terusik hati nuraninya sendiri,” kata Devanadera.

Sebanyak 57 orang tewas akibat pembantaian milisi Ampatuan tersebut, 27 di antaranya wartawan, serta 15 pengemudi motor dan mobil yang kebetulan lewat di lokasi peristiwa.

Kematian tak menghambat

Meski istri dan sanak keluarganya menjadi korban pembantaian, Ismael Mangudadatu, Jumat, tetap mencalonkan diri sebagai gubernur. ”Hanya kematian yang bisa menghentikan saya,” ujar Ismael, yang dikawal seorang jenderal senior Angkatan Darat.

Seorang komandan polisi dan beberapa tentara mengawal untuk menyampaikan dokumen pencalonannya kepada Komisi Pemilihan Umum di ibu kota Provinsi Maguindanao, Sharrif Aguak.

Sepanjang perjalanan menuju ibu kota Maguindanao, sejumlah warga menyambutnya dengan melambaikan tangan, mengacungkan jempol, bahkan ada juga yang mengacungkan tinju untuk mendukungnya. ”Ini simbol kebebasan kami. Saya harap ini awal kebebasan kami,” kata Ismael Mangudadatu, yang diikuti sekitar 100 pendukung.

Ismael merupakan Wakil Wali Kota Buluan, mengambil langkah di luar perkiraan ketika memutuskan bersaing pada pemilu Mei 2010. Dia mengirimkan istri dan saudaranya memasukkan dokumen pencalonan karena telah mendapat ancaman pembunuhan. (AP/AFP/Reuters/OKI)

Editor: tof   |   Sumber : Kompas Cetak Loading...
Sent from Indosat BlackBerry powered by
    Font: A A A
  Kirim Komentar Anda
  • Loading data..
 
Kirim Komentar Anda
Silakan login untuk kirim komentar Anda.
Komentar
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA.