PM Turki Isyaratkan Referendum untuk Akhiri Protes

Kompas.com - 13/06/2013, 13:37 WIB
EditorEgidius Patnistik

ANKARA, KOMPAS.COM Perdana Menteri Turki Recep Tayyip Erdogan mengatakan dirinya mempertimbangkan untuk mengadakan referendum terkait rencana membangun kembali sebuah taman di Istanbul yang telah memicu protes nasional. Itu merupakan konsesi besar pertama Erdogan terhadap kerusuhan anti-pemerintah yang telah berlangsung hampir dua minggu di negara itu.

Langkah tersebut muncul saat ribuan orang berkumpul untuk malam ke-13 di Taksim Square pada Rabu, yang berdekatan dengan Gezi Park. Aksi hari Rabu itu berlangsung tenang dan damai, kontras dengan malam sebelumnya saat para demonstran bentrok dengan polisi anti huru-hara.

"Kami mungkin melakukan referendum untuk itu... Dalam demokrasi, hanya kehendak rakyat yang penting," kata Huseyin Celik, juru bicara Partai Keadilan dan Pembangunan (AKP) pimpinan Erdogan, setelah pembicaraan antara Erdogan dan para pemimpin demonstran. "Kami berpikir bahwa setelah langkah yang dilandasi niat baik ini, orang-orang akan memutuskan untuk pulang ke rumah."

Kampanye untuk menyelamatkan pohon-pohon di Gezi Park yang akan digusur demi membuat replika barak militer era Ottoman berhadapan dengan respons keras polisi pada tanggal 31 Mei. Tindakan keras polisi itu memicu kemarahan di seluruh negeri terhadap Erdogan, yang dinilai semakin otoriter.

Ratusan orang sejak itu berkemah di Gezi Park, yang menjadi jantung simbolis dari gerakan protes tersebut. Polisi tidak menertibkan tenda-tenda yang bermunculan di sana, tetapi hari Selasa mereka menyerbu Taksim Square, menembakkan gas air mata dan meriam air terhadap puluhan ribu demonstran.

Erdogan telah menghadapi kecaman internasional terkait penanganannya atas krisis itu, yang telah menyebabkan empat orang tewas dan melukai hampir 5.000 demonstran. Tanggapannya itu juga menodai citra Turki sebagai model demokrasi di negara Islam.

Erdogan telah mengambil sikap agresif terhadap para demonstran. Ia memperingatkan berulang kali bahwa ia kehabisan kesabaran dengan para demonstran. Namun, ia bertemu dengan beberapa perwakilan para demonstran pada hari Rabu. Para perwakilan itu, yang merupakan sebuah koalisi yang longgar yang terdiri dari para aktivis lingkungan, tidak mengomentari usulan referendum setelah pembicaraan tersebut. Sejumlah pihak mengatakan, mereka tidak berbicara untuk mewakili sebagian besar pengunjuk rasa dan mengambil untung dari pertemuan dengan Perdana Menteri itu.

Baca tentang


    Rekomendasi untuk anda
    25th

    Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

    Syarat & Ketentuan
    Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
    Laporkan Komentar
    Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

    Terkini Lainnya

    Kearifan Pilar Singa Ashoka

    Kearifan Pilar Singa Ashoka

    Internasional
    Refleksi 12 Tahun Serangan Penembakan Brutal Mumbai

    Refleksi 12 Tahun Serangan Penembakan Brutal Mumbai

    Internasional
    Amerika Meniru Indonesia?

    Amerika Meniru Indonesia?

    Internasional
    Ulang Tahun Selebgram Ini Berujung Petaka, 3 Orang Tewas Termasuk Suaminya

    Ulang Tahun Selebgram Ini Berujung Petaka, 3 Orang Tewas Termasuk Suaminya

    Internasional
    Takut Terkena Virus Corona, Seorang Pria Kurung Istrinya di Kamar Mandi

    Takut Terkena Virus Corona, Seorang Pria Kurung Istrinya di Kamar Mandi

    Internasional
    Korea Utara Umumkan Uji Coba 'Artileri Laras Jauh'

    Korea Utara Umumkan Uji Coba "Artileri Laras Jauh"

    Internasional
    Erupsi Gunung Merapi Jadi Perhatian Media Internasional

    Erupsi Gunung Merapi Jadi Perhatian Media Internasional

    Internasional
    Anggotanya Tularkan Virus Corona, Pemimpin Sekte Sesat di Korsel Ini Berlutut Minta Maaf

    Anggotanya Tularkan Virus Corona, Pemimpin Sekte Sesat di Korsel Ini Berlutut Minta Maaf

    Internasional
    Mahathir Salahkan Anwar Ibrahim atas Krisis Politik Malaysia: Dia Terobsesi Jadi PM

    Mahathir Salahkan Anwar Ibrahim atas Krisis Politik Malaysia: Dia Terobsesi Jadi PM

    Internasional
    Kerusuhan India: Upaya Menentang UU Kewarganegaraan Kontroversial yang Tewaskan 42 Orang

    Kerusuhan India: Upaya Menentang UU Kewarganegaraan Kontroversial yang Tewaskan 42 Orang

    Internasional
    [KABAR DUNIA SEPEKAN] Bayi Cemberut Saat Dilahirkan | Mahathir Kecewa Dikhianati Muhyiddin

    [KABAR DUNIA SEPEKAN] Bayi Cemberut Saat Dilahirkan | Mahathir Kecewa Dikhianati Muhyiddin

    Internasional
    Perubahan Wajah Afghanistan Selama 18 Tahun Diinvasi AS

    Perubahan Wajah Afghanistan Selama 18 Tahun Diinvasi AS

    Internasional
    Momen Manis, Mahathir Mohamad Dapat Pelukan dari Sang Istri

    Momen Manis, Mahathir Mohamad Dapat Pelukan dari Sang Istri

    Internasional
    Mengeluh soal Kehidupan, Pria Ini Meninggal Saat Siaran Langsung TV

    Mengeluh soal Kehidupan, Pria Ini Meninggal Saat Siaran Langsung TV

    Internasional
    Virus Corona: Malaysia Tambah Empat Kasus, Armenia Umumkan Kasus Pertama

    Virus Corona: Malaysia Tambah Empat Kasus, Armenia Umumkan Kasus Pertama

    Internasional
    komentar di artikel lainnya
    Close Ads X