Kompas.com - 29/05/2013, 12:14 WIB
|
EditorAna Shofiana Syatiri

JAKARTA, KOMPAS.com - Sebelum kasus perbudakan buruh pabrik kuali di Desa Lebak Wangi, Kecamatan Sepatan Timur, Tangerang terungkap, Yuki Irawan, pemilik pabrik tersebut, diduga sudah sering melakukan intimidasi terhadap warga sekitar.

"Saya sagat mengenal seperti apa Yuki, dia sosok yang temperamen. Kalau marah langsung manggil bekingannya yang aparat. Dia juga punya banyak centeng-centeng di luar mandor," kata Catur, warga Kampung Bayor Opak, tak jauh dari pabrik kuali, ketika memberikan keterangannya di Kantor Kontras, Jakarta Pusat, Selasa (28/5/2013).

Catur mengaku pernah berurusan dengan Yuki pada akhir tahun 2010, saat ia melaporkan pembakaran alumunium foil di dalam pabrik. Alumunium foil dibakar untuk dicetak menjadi alumunium batangan, yang berguna sebagai bahan dasar pembuatan kuali.

Catur memprotes lantaran asap dan debu bekas pembakaran berterbangan sehingga sangat mengganggu warga yang tinggal di sekitar lokasi. Lantas, ia pun melaporkan keluhannya tersebut ke Kelurahan Priuk Jaya, Tanggerang. Akan tetapi, tidak ada tanggapan dari pihak kelurahan.

Selanjutnya, Catur tetap menyampaikan keluhannya tersebut ke Kecamatan. Pihak Kecamatan langsung menerjunkan trantib untuk turun langsung melihat lokasi. Tetapi sesampainya di sana, mereka langsung pulang tanpa ada hasil dan kejelasan.

Setelah trantib mendatangi pabrik milik Yuki, sore harinya rumah Catur didatangi oleh sejumlah preman yang meminta ia tidak meneruskan laporannya tersebut. "Sorenya rumah saya didatangi preman. Premannya dalam kondisi mabuk semua. Mereka mengancam minta laporan itu dihentikan, 'kalau tidak, tahu sendiri risikonya'," jelas Catur.

Selain itu, banyak warga yang mengeluhkan lingkungan mereka tercemar oleh limbah hasil produksi pabrik kuali itu. Air limbah itu keluar melewati jalan-jalan perumahan dan terus mengalir sampai ke sawah-sawah milik warga dan merusaknya.

Nahaya, salah satu warga yang airnya tercemar, mengaku pernah mendatangi rumah Yuki yang berada di sebelah pabrik. Ketika Nahaya menyampaikan keluhannya itu, ia malah mendapat ancaman dari Yuki.

"Saya diintimidasi, pertama saya disuruh masuk ke rumahnya. Taunya di dalam sudah ada dua orang aparat. Saya diancam mau 'dihilangkan' jika terus-terusan protes. Aparat juga ngancam akan 'menemui' keluarga saya di rumah," ujarnya.

Pencemaran air limbah hasil produksi pabrik tersebut sangatlah berbahaya. Air tersebut mengalir ke perumahan yang berada di sekeliling pabrik, yang menyebabkan air timba dari sumur-sumur warga sudah terkontaminasi dengan air limbah tersebut.

Selain itu, jalan-jalan menjadi becek dan mengeluarkan bau tak sedap. Para aparat dan juga centeng-centeng bos pabrik kuali itu juga kerap berkeliling di sekitr pabrik.

Walupun mereka hanya memantau, tetapi keberadaannya sangat meresahkan warga. Bahkan pascakasus perbudakan pabrik kuali mencuat, beberapa oknum tersebut terlihat masih suka berada di sekitar pabrik.

"Pengennya para oknum agar tidak berkeliaran lagi. Soalnya masyarakat jadi tidak aman dan nyaman," kata Catur.

Baca tentang


    25th

    Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

    Syarat & Ketentuan
    Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
    Laporkan Komentar
    Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

    Terkini Lainnya

    komentar di artikel lainnya
    Close Ads X