Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Nawaz Sharif Unggul Sementara di Pemilu Bersejarah Pakistan

Kompas.com - 13/05/2013, 03:48 WIB
Palupi Annisa Auliani

Penulis

LAHORE, KOMPAS.com — Nawaz Sharif, Perdana Menteri Pakistan yang pemerintahannya digulingkan kudeta militer lebih dari satu dekade lalu, tampaknya bakal kembali ke tampuk pimpinan negara itu. Komisi pemilihan setempat menyatakan hasil sementara Pemilu Pakistan mendapatkan Sharif memenangkan mayoritas kursi di Majelis Nasional.

Data sementara dari komisi pemilihan, Sharif memenangkan 16 dari 23 kursi di Majelis Rendah. Namun, kandidat dari Partai Tehtreek-e-Insaf —Gerakan untuk Keadilan— Imran Khan, mengatakan bahwa pemilu ini telah dicurangi.

"Polisi digunakan, dan entah bagaimana staf Komisi Pemilihan digunakan," kecam Imran. Menurut dia, kecurangan dimungkinkan karena pemerintahan di provinsi tak dinonaktifkan hingga 20 hari menjelang penyelenggaraan pemilu sehingga mereka punya waktu untuk menempatkan orang-orang mereka dalam proses pemilihan.

Meski demikian, Khan mengatakan pemilu ini tetap membawa perubahan di Pakistan. "Saya sangat optimistis bahwa dasar dari apa yang kita sebut Pakistan baru telah diletakkan," katanya. Dia pun mengatakan Pakistan tak akan pernah sama lagi karena kini pemuda dan perempuan sudah berpartisipasi dalam pemilu. Partai yang mengusung Khan, berdasarkan data sementara komisi pemilihan, memenangi empat kursi di Majelis Rendah.

Tak kurang dari Menteri Luar Negeri Amerika Serikat John Kerry menyebut Pemilu Pakistan sebagai pemilu demokratis yang bersejarah. "Orang-orang Pakistan berdiri menghadapi ancaman kaum ekstremis," ujar dia. Kerry pun menyatakan Pemerintah Amerika Serikat akan bekerja sama dengan pemerintahan baru yang bakal segera terbentuk.

Perdana Menteri India Manmohan Singh melalui akun Twitter bahkan sudah menyatakan selamat kepada Sharif dan Liga Muslim yang mengusungnya. Manmohan menyebut hasil yang dicapai Sharif sebagai "kemenangan yang tegas".

Demi perubahan

Pemungutan suara, Sabtu (11/5/2013), diwarnai dengan beragam serangan kekerasan yang menghalangi sebagian warga Pakistan memberikan suara untuk pemilu. Namun, ketua komisi pemilihan setempat menyatakan 60 persen pemilih berpartisipasi dalam pemilu. Banyak di antara pemilih adalah mereka yang baru pertama kali memberikan suaranya dalam pemilu.

Pemilu Pakistan ini menandai transisi menuju pemerintahan sipil setelah 66 tahun sejarah politik negara itu didominasi militer. Sepanjang sejarah Pakistan, militer telah melakukan tiga kali kudeta politik, dan separuh dari masa pemerintahan di negara itu dipimpin oleh jenderal tentara.

Dari markas pemenangannya, Sharif menyatakan optimistis partainya akan membentuk pemerintahan berikutnya. Dia berharap partainya memenangkan cukup kursi untuk membentuk pemerintahan sendiri, tetapi dia pun menyatakan bersedia bekerja sama dengan pihak lain untuk memecahkan masalah negara.

Komisi Pemilihan sempat memperpanjang waktu pemungutan suara, di daerah pemilihan di selatan kota Karachi, karena ada keluhan minimnya suara yang masuk. Sekretaris Komisi Pemilihan Umum Pakistan, Ishtiak Ahmed Khan, mengatakan dalam konferensi pers bahwa pemilu kali ini berlangsung bebas dan adil di seluruh penjuru negara meskipun ada persoalan di Karachi.

Sebelumnya, empat ledakan mengguncang Karachi, menewaskan 14 orang, dan melukai puluhan lainnya menjelang hari pemungutan suara. Di seluruh Pakistan, aksi kekerasan serupa menewaskan 29 orang pada hari pemungutan suara. Namun, rangkaian kekerasan itu tak menyurutkan antrean para pemilih di tempat pemungutan suara untuk memilih pemerintahan baru menggantikan pemerintahan sementara yang terbentuk pada Maret 2013.

"Ini adalah pertama kalinya saya memberikan suara, dan saya (berusia) 60, saya ingin perubahan," kata Shaheen Khan, di salah satu lokasi pemungutan suara di Karachi yang merupakan kota terbesar di Pakistan. Dia pun mengatakan di tempatnya memberikan suara antrean mengular, tetapi orang-orang bersedia mengantre berjam-jam untuk memberikan suara, termasuk mereka yang harus menggunakan kursi roda dan kruk penyangga untuk datang ke lokasi itu.

Dilaporkan, di beberapa lokasi pemilihan antrean bisa berlangsung sampai tiga jam sampai seseorang bisa memberikan suara. Associated Press melaporkan, beberapa tempat pemungutan suara terlambat dibuka. Pernyataan dari Kantor Perdana Menteri ad interim Mir Hazar Khan Khoso menyampaikan terima kasih kepada rakyat Pakistan karena bersedia memilih. Ucapan terima kasih disampaikan pula untuk semua pihak yang turut menyelenggarakan pemilu ini.

Khoso dalam pernyataan itu menyatakan yakin bahwa tahap penghitungan suara juga bakal berjalan lancar. Dia pun menegaskan kembali bahwa pemerintahan sementara yang dipimpinnya akan menyerahkan kekuasaan sesegera mungkin ketika hasil pemilu disahkan, tanpa penundaan.

 

Simak breaking news dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Pilih saluran andalanmu akses berita Kompas.com WhatsApp Channel : https://www.whatsapp.com/channel/0029VaFPbedBPzjZrk13HO3D. Pastikan kamu sudah install aplikasi WhatsApp ya.

Video rekomendasi
Video lainnya


Terkini Lainnya

Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Terpopuler

Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
komentar di artikel lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com