Pabrik Garmen Dibuka Lagi, Wali Kota Diskors

Kompas.com - 03/05/2013, 03:03 WIB
Editor

Dhaka, Kamis - Industri garmen Banglades kembali dibuka, Kamis (2/5), setelah gelombang demonstrasi dan pemogokan buruh, menyusul runtuhnya gedung tempat lima pabrik garmen, 24 April lalu.

Bencana terburuk industri garmen negara itu telah menimbulkan protes di seluruh dunia. Mereka mengkritik buruknya keselamatan kerja dan upah buruh pembuat baju untuk merek-merek terkenal Barat. Pemimpin umat Katolik sedunia, Paus Fransiskus, bahkan menyebut, kondisi para pekerja yang tewas itu tak ubahnya ”tenaga kerja budak”.

Jutaan buruh garmen kembali ke tempat kerja di sekitar ibu kota Dhaka yang ditutup sejak bencana itu terjadi.

”Semua pabrik telah buka hari ini dan para buruh telah kembali bekerja. Tidak ada laporan protes atau kekerasan,” kata Shahidullah Azim, Wakil Ketua Asosiasi Produsen dan Eksportir Garmen Banglades.

Para buruh garmen beramai- ramai meninggalkan tempat kerja mereka setelah insiden terjadi sebagai protes atas serangkaian bencana yang menyebabkan korban jiwa dalam industri bernilai 20 miliar dollar AS setahun itu.

Terjadi sejumlah serangan dan pelemparan pada pabrik-pabrik selama pekan lalu. Buruh juga turun ke jalan dan bentrok dengan polisi. Kemarahan atas kondisi buruh garmen—banyak di antaranya berupah kurang dari 40 dollar AS sebulan—menjadi fokus utama unjuk rasa Hari Buruh, 1 Mei.

Sekitar 3 juta orang bekerja sebagai buruh di 4.500 pabrik tekstil negara itu. Azim mengatakan, kerugian akibat tutupnya pabrik tekstil dan garmen selama hampir sepekan itu diperkirakan menyebabkan kerugian 25 juta dollar AS sehari.

Paus Fransiskus menambah tekanan dunia untuk perubahan dalam komentar terkerasnya mengenai hak buruh sejak terpilih pada 13 Maret. ”Hidup dengan 38 euro sebulan. Itulah upah yang diterima orang-orang yang meninggal ini. Itu disebut tenaga kerja budak,” kata Fransiskus dalam khotbah mendadak dalam misa pagi di kediamannya di Vatikan.

Perlahan

Operasi pembersihan berjalan perlahan meski petugas telah menggunakan alat berat untuk menyingkirkan reruntuhan gedung Rana Plaza di Savar, pinggiran kota Dhaka. Sejumlah jenazah yang ditemukan membuat jumlah korban tewas kini mencapai 430 orang.

”Kami bekerja terus-menerus. Operasi berjalan pelan karena semua dilakukan dengan sangat hati-hati,” kata juru bicara militer, Shahinul Islam.

Pemerintah Banglades menskors Wali Kota Savar Mohammad Refayet Ullah karena tidak menutup pabrik garmen ketika retakan bermunculan di gedung itu, sehari sebelum tragedi. Ullah adalah pejabat tertinggi yang diskors karena bencana itu.

Selain 430 orang yang tewas, polisi melaporkan 149 orang juga belum ditemukan. Pemakaman massal dilakukan pada hari Rabu bagi 34 korban yang jenazahnya tak bisa diidentifikasi. Sejumlah liang kubur telah digali untuk lebih banyak korban yang tak teridentifikasi. (AFP/Reuters/AP/DI)

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads
Verifikasi akun KG Media ID
Verifikasi akun KG Media ID

Periksa kembali dan lengkapi data dirimu.

Data dirimu akan digunakan untuk verifikasi akun ketika kamu membutuhkan bantuan atau ketika ditemukan aktivitas tidak biasa pada akunmu.

Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.