Ketua Parlemen Desak Pemerintah Mundur

Kompas.com - 30/04/2013, 03:23 WIB
Editor

Baghdad, Senin - Ketua Parlemen Irak Osama al-Nujaifi, di Baghdad, Senin (29/4), menyerukan agar pemerintahan Perdana Menteri Nouri al-Maliki membubarkan diri dan segera digelar pemilu untuk memilih pemerintahan baru. Seruan Nujaifi itu disampaikan tak lama setelah lima ledakan bom mobil mengguncang kawasan yang dihuni warga Syiah di Irak tengah dan selatan.

Serangkaian ledakan itu menyebabkan 36 orang tewas dan puluhan orang lainnya terluka. Jumlah korban tewas akibat gelombang kekerasan sektarian di Irak yang telah berlangsung sepekan terakhir itu menjadi lebih dari 230 orang.

Pernyataan yang dikeluarkan kantor Nujaifi menyebutkan, desakan agar pemerintahan Maliki mundur itu bertujuan menciptakan rekonsiliasi nasional dan memelihara keunggulan demokrasi. ”Selain itu, juga untuk mencegah negara ini jatuh dalam kekerasan sektarian dan perang saudara,” demikian pernyataan tersebut.

Pernyataan itu disampaikan Nujaifi dalam proposal yang diajukan kepada pemimpin partai politik yang berada di parlemen. Nujaifi adalah pemimpin blok sekular Iraqiya yang didukung Sunni dan sejak lama berseberangan dengan PM Maliki yang didukung kelompok Syiah.

Dia mengusulkan agar dibentuk pemerintahan sementara dengan anggota kabinet yang lebih sedikit, terdiri atas perwakilan independen yang tak boleh mencalonkan diri dalam pemilu berikutnya. Setelah itu, komisi pemilihan umum segera menyiapkan pemilu, dan parlemen dibubarkan.

Proposal ini diajukan untuk mencari jalan keluar bagi rangkaian kekerasan yang berawal pada 22 April lalu. Saat itu, pasukan keamanan merazia kamp pengunjuk rasa anti-pemerintah yang dimotori warga Sunni di Hawijah. Penggerebekan itu mendapat perlawanan dari kelompok demonstran yang bersenjata, menimbulkan bentrokan sengit yang menewaskan 53 orang.

Kekerasan yang memuncak sepekan terakhir membuat jumlah korban tewas sepanjang bulan April melonjak menjadi 450 orang di seluruh Irak dan lebih dari 1.150 orang luka-luka.

Irak selatan

Belum ada pihak yang bertanggung jawab atas serangkaian ledakan bom mobil sepanjang Senin. Insiden itu terjadi di Irak selatan, diawali dua ledakan simultan di Amarah, 320 kilometer tenggara kota Baghdad.

Dua mobil yang diparkir di dekat pasar meledak hampir bersamaan pada pagi hari. Sebanyak 18 orang tewas dan 42 lainnya cedera, sebagian besar adalah pekerja konstruksi yang sedang berkumpul di tempat tersebut.

Serangan itu diikuti ledakan bom lain di Diwaniyah, 130 kilometer selatan Baghdad. Sembilan orang tewas dan 23 orang cedera akibat ledakan itu. Tiga kendaraan yang diparkir bersebelahan hancur berantakan. Ledakan bom juga menghancurkan bagian depan bangunan dua lantai yang digunakan sebagai toko.

Beberapa jam kemudian, bom mobil lain meledak di Karbala, kota suci kaum Syiah, dan menewaskan tiga orang. Seperti Karbala, mayoritas penduduk Amarah dan Diwaniyah, dua kota yang jarang tersentuh kekerasan bersenjata, adalah warga Syiah.

Bom terakhir meledak di dekat permukiman warga Syiah di Mahmoudiya, yang mayoritas dihuni warga Sunni. Polisi mengatakan, 6 orang tewas dan 14 orang cedera. (AP/AFp/was)

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.