Kompas.com - 04/03/2013, 16:28 WIB
EditorErvan Hardoko

LONDON, KOMPAS.com - Sebuah sidang publik akan dibuka di London, Senin (4/3/2013) untuk menyelidiki tuduhan terbunuhnya 20 warga Irak setelah terjadi tembak-menembak dengan pasukan Inggris tahun 2004.

Sidang ini dinamai seperti nama salah satu korban penembakan, Hamid al-Sweady, juga akan mengecek kebenaran klaim bahwa tahanan yang ditangkap pasukan Inggris saat itu, disiksa.

Seorang mantan hakim akan mendengarkan berbagai tudingan terhadap pasukan Inggris ini.

Sebelum sidang Departemen Pertahanan negara kerajaan itu mengatakan tak ada bukti yang mendukung tuduhan yang diajukan tersebut.

Sidang Al-Sweady merupakan yang kedua terkait tuduhan adanya pelanggaran hukum dalam operasi pasukan Inggris di Irak setelah sebelumnya dilakukan sidang serupa untuk menyelidiki kematian Baha Mousa tahun 2003.

Namun dalam kasus Al-Sweady ini sejumlah tudingan keras, beberapa yang paling berat yang diarahkan pada angkatan bersenjata Inggris, disebut-sebut 'belum pernah terjadi' sebelumnya. 

Tidak Biasa

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Kasus ini terjadi sekitar saat terjadi baku tembak pada Mei 2004, dimana pasukan Inggris disergap di dekat sebuah kota di Majar al-Kabir, Irak.

"Pada sidang publik umumnya, Anda tahu apa yang sudah terjadi dan Anda berupaya mencari tahu kenapa itu terjadi serta bagaimana mencegah hal itu terulang kembali," kata sekretaris sidang ini, Cecilia French, kepada BBC.

"Tapi kali ini lebih mirip sidang kasus kriminal karena ada dua kubu yang sama sekali punya pandangan berlawanan atas apa yang terjadi dan kita berusaha mencari kebenaran sesungguhnya. Ini yang membuat sidang ini tidak biasa."

Tiga tahun berlalu sejak upaya menggelar sidang ini dimulai termasuk untuk memberi waktu agar para staf staff, termasuk para detektif yang sudah pensiun, dapat mengumpulkan bahan yang kini sudah mencapai 12.000 dokumen.

Kasus ini sudah makan biaya hingga £15 juta (sekitar Rp218 miliar) dan diperkirakan akan membengkak dua kali lipatnya karena ada 200 saksi dari personel militer serta 45 warga Irak yang akan dipanggil untuk memberi kesaksian melalui video dari Beirut. Termasuk diantara mereka adalah staf medis serta sopir ambulans yang bertugas saat kejadian.

 

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.