Kompas.com - 04/03/2013, 16:26 WIB
EditorEgidius Patnistik

JERUSALEM, KOMPAS.com — Kementerian Perhubungan Israel akan mengoperasikan sejumlah bus yang tampaknya akan didesain "hanya untuk orang Palestina" di Tepi Barat. Perkembangan itu telah memicu tuduhan soal diskriminasi rasial dari sejumlah aktivis.

Jalur bus itu, yang dioperasikan perusahaan bus Afikim, akan mulai mengoperasikan layanan yang tampaknya hanya bagi warga Palestina dari pos pemeriksaan di Tepi Barat ke Gush Dan, lapor harian Israel, Haaretz, seperti dikutip Huffingtonpost, Minggu (3/3/2013).

Sebuah pernyataan kementerian itu menyatakan, "Jalur baru itu akan mengurangi beban yang telah terjadi di bus-bus sebagai akibat dari peningkatan jumlah izin kerja yang diberikan kepada warga Palestina," lapor Haaretz. Masih menurut pernyataan itu, bus-bus tersebut akan "berkontribusi pada perbaikan pelayanan demi kebaikan warga Israel dan Palestina".

Namun, walau bus-bus baru itu secara teknis dapat diklasifikasikan sebagai "jalur bus umum", iklan untuk layanan itu hanya muncul di desa-desa Palestina, demikian menurut harian Ynet.

Seorang pengemudi yang bekerja untuk Afikim mengatakan pada harian Ynet bahwa meskipun secara legal tidak ada cara untuk mencegah warga Palestina yang memiliki dokumentasi yang benar memasuki bus, "Mulai minggu depan akan ada pemeriksaan di pos pemeriksaan, dan warga Palestina akan diminta untuk naik bus-bus mereka sendiri."

"Jelas, setiap orang sekarang akan mulai berteriak 'apartheid' dan 'rasialisme'," kata sopir itu. "Ini rasanya benar-benar tidak adil, dan mungkin (kementerian) harus menemukan sebuah solusi yang berbeda, tetapi situasinya saat ini tidak mungkin."

Haaretz menambahkan, sejumlah kelompok pemantau, termasuk Machsom Watch, telah mendokumentasikan sebuah tren "yang sedang berlangsung" mengenai warga Palestina yang dipaksa turun dari bus saat sedang bepergian ke Israel tanpa alasan yang jelas.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Kelompok hak asasi manusia Israel, B'Tselem, langsung mengkritik rencana pemerintah itu, lapor RT. "Upaya segregasi bus itu mengerikan, dan alasan tentang 'kebutuhan keamanan' dan 'kepadatan' tidak harus dipakai untuk menutupi-nutupi rasialisme secara terang-terangan dengan menyingkirkan orang-orang Palestina dari bus," kata Direktur Eksekutif B'Tselem, Jessica Montell.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Baca tentang


    Video Pilihan

    26th

    Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

    Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

    Syarat & Ketentuan
    Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
    Laporkan Komentar
    Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

    Terkini Lainnya

    komentar di artikel lainnya
    Close Ads X
    Lengkapi Profil
    Lengkapi Profil

    Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.